Category Archives: teori sosiologi

Globalisasi

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Tugas Mereview Materi

Mata kuliah : Teori Sosial Politik

Judul : Globalisasi

Nama : Aldora Nuary Wismianti NIM : D0310008

Pengampu : Akhmad Ramdhon, S.Sos, MA

Review Pembelajaran : GLOBALISASI


Adanya demokrasi dan kapitalisme membangun sebuah negara baru yang kemudian berlanjut pada keadaan/teori yang lebih luas yang disebut dengan Globalisasi. Globalisasi merupakan suatu proses hubungan sosial secara relatif yang menemukan tidak adanya batasan jarak dan menghilangnya batasan-batasan secara nyata, jadi ruang lingkup kehidupan manusia itu makin bertambah dengan memainkan peranan yang lebih luas di dalam dunia sebagai satu kesatuan tunggal. Hubungan sosial, yang mana tidak lagi diperhitungkan sebagai suatu jalan yang rumit di mana orang berinteraksi dengan saling memanfaatkan satu sama lain, telah berkembang menjadi pola hubungan bahkan sampai ada yang tidak lagi menggunakan kata politik internasional atau “politics among nations”, tetapi politik global dan politics of the planet. Demikian pula “ekonomi global” mulai menggantikan “ekonomi internasional” terorganisir dan terbina dengan berbasiskan unit-unit dari satu planet.

Sebenarnya, kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang di dunia umumnya dan di kawasan Asia-Pasifik pada khususnya tidak bisa dilepaskan dari usaha-usaha, pengaruh, serta tindakan Amerika Serikat sebagai negara hegemoni yang menjamin terpeliharanya sistem perekonomian global yang liberal. Negara hegemoni semacam itu biasanya memiliki keunggulan teknologi, yang kelak akan menyebar ke negara-negara pendukung negara hegemoni sehingga secara langsung maupun tidak langsung akan membantu pertumbuhan ekonomi mereka. Penyebaran ini dibarengi oleh bantuan ekonomi dan perlindungan militer kepada setiap negara yang dianggap berpotensi untuk menjadi sekutu terkuatnya. Tentu saja kelak penyebaran bantuan ekonomi juga akan diberikan kepada negara-negara yang kurang maju untuk membantu usaha-usaha pembangunan negara bersangkutan guna memacu pertumbuhan ekonomi mereka. Fungsi yang juga penting adalah kedudukannya sebagai pasar global raksasa yang mampu menyerap barang-barang ekspor dari negara-negara sekutunya. Jadi, hanya negara dengan pasar domestik yang sangat besar saja yang pantas menjadi negara hegemoni.
Aspek ekonomi dari sistem internasional memiliki kekuatan dominan semenjak revolusi industri. Karena persaingan semakin tajam, adanya kebutuhan akan pasar dan tenaga kerja terampil yang murah, serta upaya mendapatkan bahan mentah dan sumber daya energi, maka aplikasinya terhadap politik internasional menjadi berlipat ganda. Upaya pembangunan seusai Perang Dunia II dan pertentangan ekonomi-politik antara Barat yang kapitalis dan Timur yang sosialis merupakan faktor-faktor pendukung berikutnya. Meskipun semua masalah ini bertolak dari bidang ekonomi, masalah-masalah itu sangat mempengaruhi sistem politik internasional. Guna menata segenap hubungan ini, dunia menciptakan sebuah sistem ekonomi internasional penunjang yang banyak di antaranya telah di lembagakan (yaitu lembaga antar pemerintah yang diatur secara formal) semenjak Perserikatan Bangsa-Bangsa terbentuk. Lembaga-lembaga tersebut antara lain : BIS, Group of Seven (G7) yang sekarang bahkan menjadi G20, GATT, IMF, IOSCO, OECD, UNCTAD, World Bank Group (WBG), dan World Trade Organization (WTO). Beberapa contoh fungsi lembaga tersebut adalah sebagai berikut :

  • International Monetary Fund (IMF)

Berdiri tahun 1945 dengan kantor pusat di Washington DC. IMF mengawasi aliran uang jangka pendek yang terjadi antar lintas batas dan masalah devisa. Badan ini juga memformulasikan stabilitas dan perubahan sistem kebijakan untuk suatu negara yang mengalami masalah kronis yang sulit dari hutang antar-lintas batas atau transisi dari suatu negara yang dulunya memakai sistem perencanaan ekonomi komunis.

  • World Bank Group (WBG)

Berdiri tahun 1945, berkantor pusat di Washigton DC. Group ini membuat suatu proyek pinjaman dalam jangka waktu yang panjang bagi pembangunan suatu negara terbelakang. Seperti IMF, Bank Dunia menjadi suatu hal yang memberatkan pada penyesuaian struktur program-program di negara-negara Selatan dan Asia Pasifik.

  • World Trade Organization (WTO)

Berdiri tahun 1955 dengan kantor pusat di Genewa. WTO menggantikan posisi GATT. Fungsinya adalah untuk mengatur perdagangan internasional.

Era yang akan mendominasi dunia untuk saat ini serta masa mendatang adalah era globalisasi dan kapitalisme global. William Greider mengamati bahwa globalisasi yang sedang terjadi ini pada akhirnya hanya akan menguntungkan segelintir orang, dan menyengsarakan sejumlah besar penduduk planet bumi ini. Ia melontarkan tesisnya bahwa motor di balik globalisasi adalah yang disebut dengan ‘kapitalisme global’. Sesuai dengan watak kapitalisme yang rakus dan tidak pernah puas, mereka beramai-ramai menguras kekayaan dunia, masuk ke dalam kantung mereka dengan memanfaatkan teknologi komputer, mengabaikan semua kesantunan hidup bersama. Hal ini menyentuh pada tingkat kebudayaan yang juga merupakan unsur intrusive dari negara maju sekaligus alat propaganda di dalam menebarkan bom-bom budaya baru di segala penjuru dunia. Globalisasi kemudian mulai menekan budaya lokal sampai ke sudut yang paling sempit sehingga orang dibuat lupa akan budayanya sendiri dan mengindahkan nilai-nilai budaya asing yang masuk ke dalam dirinya. Sebab di zaman sekarang ini, orang yang tetap berpendirian teguh pada nilai-nilai lama atau dengan kata lain budayanya akan dipandang ketinggalan zaman. Hal ini disebut pula Amerikanisasi yang merupakan suatu ideologi kebudayaan untuk membenarkan semua yang disebut neoliberalisme. Noorena Hertz mengatakan, akibat dari globalisasi ekonomi adalah terjadinya the death of democracy. Para pemimpin negara saat ini memang dipilih rakyat, tetapi ternyata mereka lebih sibuk untuk melayani pelaku bisnis global yang tidak memilihnya.

Regionalisme dengan blok-blok ekonomi yang ada di kawasan seperti ASEAN, juga mau tidak mau harus dapat menerima atau mencoba bertahan dari terpaan badai globalisasi yang terasa kencang ini dengan menguatkan kerjasama ekonominya. Sebab pergerakan dan pergeseran atau transformasi secara besar-besaran terjadi dalam hal ini demi memudahkan perdagangan seperti pembebasan tarif bea masuk dan pajak disertai dengan masuknya praktisi asing baik itu tenaga kasar, ahli dari negara luar ataupun barang dari negara maju atau antar negara berkembang sendiri (AFTA dan APEC).

Sumber : Rudy, T. May. 2003. Hubungan Internasional Kontemporer dan Masalah-Masalah Global. Refika Aditama : Bandung

Fungsionalisme Struktural

Model Struktural Fungsional

Merton mengkritik apa yang dilihatnya sebagai tiga postulat dasar analisis fungsional sebagaimana dikembangkan oleh antropolog seperti Malinowski dan Radcliffe – Brown. Ternyata postulat itu tidak begitu penting artinya bagi orientasi fungsional. Postulat itu adalah :

  1. Aktivitas sosial yang melembaga atau unsur-unsur kebudayaan bersifat fungsional bagi seluruh sistem sosial atau kebudayaan.
  2. Semua unsur sosial dan kebudayaan tersebut memenuhi fungsi sosiologis.
  3. Konsekuensinya unsur-unsur tersebut sangat diperlukan.

Walaupun ketiga postulat tersebut saling berkaitan, akan tetapi masing-masing harus ditelaah secara terpisah. Hal ini disebabkan karena masing-masing postulat menimbulkan kesulitan. Model struktural fungsional adalah :

  1. Kesatuan fungsional masyarakat menyatakan bahwa seluruh kepercayaan dan praktik sosial budaya standard bersifat fungsional bagi masyarakat secara keseluruhan maupun bagi individu dalam masyarakat. Merton berpandangan bahwa meskipun hal ini berlaku bagi masyarakat kecil dan primitif, Generalisasi ini dapat diperluas pada masyarakat yang lebih besar dan lebih kompleks.
  2. Fungsionalisme universal, semua bentuk dan struktur sosial kultural memiliki fungsi positif.
  3. Postulat indispensabilitas bahwa seluruh aspek standar masyarakat tidak hanya memiliki fungsi positif namun juga merepresentasikan bagian – bagian tak terpisahkan dari keseluruhan. Postulat ini mengarah pada gagasan bahwa seluruh struktur dan fungsi secara fungsional diperlukan oleh masyarakat.

Pendapat Marton adalah bahwa seluruh postulat fungsional tersebut bersandar pada pernyataan non empiris yang didasarkan pada sistem teoritis abstrak. Marton menjelaskan bahwa analisis struktural fungsional memusatkan perhatian pada kelompok, organisasi, masyarakat, dan kebudayaan. Dia juga menyatakan bahwa objek apapun yang dapat dianalisis secara struktural fungsional harus “ memrepresentasikan unsur – unsur standar ( yaitu yang terpola dan berulang ) “ ( Marton, 1949 / 1968 : 104 ). “ peran sosial, pola – pola institusional, proses sosial, pola – pola kultural, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi sosial, struktur sosial, alat kontrol sosial, dan lain sebagainya. ( Marton, 1949 / 1968 : 104 ). Menurut Marton, para analisis awalnya cenderung mencampur adukkan motif – motif subjektiv individu dengan fungsi – fungsi struktural atau institusi. Fokus pada fungsionalis stuktural harus diarahkan pada fungsi – fungsi sosial ketimbang pada motif individu. Fungsi, harus diarahkan pada fungsi – fungsi sosial ketimbang motif individu.

sumber : Teori Sosiologi – Richard Ritzer

Teori Organisasi Sosial Talcott Parsons

Teori Organisasi Sosial Menurut Talcott Parsons

Strategi Parsons untuk menyusun teori, berpegang teguh pada suatu posisi ontologis yg jelas, yaitu keadaan sosial memperlihatkan ciri-ciri secara sistematis yang harus dicakup oleh suatu pengaturan konsep-konsep abstrak secara paralel. Hal yg lebih menonjol lagi adalah asumsi-asumsi mengenai hakikat dunia sosial yg voluntaristik.

Teori aksi voluntaristik menyajikan suatu sintesa asumsi-asumsi bermanfaat dan konsep-konsep utilitarianisme, positivisme, maupun idealisme bagi Parsons. Formulasi tertib sosial, menyajikan berbagai masalah bagai Parsons, misalnya apakah manusia senantiasa berperilaku rasional? Apakah mereka benar-benar bebas dan tidak diatur? Bagaimana ketertiban mungkin ada dalam sistem kompetitif yang tidak teratur? Parsons menyampingkan formulasi-formulasi ekstrim para positivis radikal, yang cenderung memandang dunia sosial dalam kerangka hubungan sebab akibat yang dapat diamati diantara gejala-gejala fisik, sehingga tidak memperhitungkan fungsi simbolis jiwa manusia. Selanjutnya Parsons berpendapat, tekanan pada hubungan sebab akibat yang dapat diamati akan menuju pada reduksionisme tanpa batas, misalnya :

  1. Kelompok-kelompok dijabarkan kedalam hubungan sebab akibat anggota-anggotanya secara individual.
  2. Individu-individu dijabarkan dalam hubungan sebab akibat proses fisiologis, sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.

Aksi voluntaristik yg dikemukakan oleh Talcott Parsons mencakup unsur-unsur dasar, sebagai berikut :

  1. Pelaku, yang merupakan pribadi individual
  2. Pelaku mencari tujuan-tujuan yang akan dicapai
  3. Pelaku mempunyai cara-cara untuk mencapai tujuan
  4. Pelaku dihadapkan pada berbagai kondisi situasional
  5. Pelaku dikuasai oleh nilai-nilai, kaidah-kaidah, dan gagasan-gagasan lain yg mempengaruhi penetapan tujuan dan pemilihan cara untuk mecapai tujuan
  6. Aksi mencakup pengambilan keputusan secara subyektif oleh pelaku untuk memilih cara mencapai tujuan, yang dibatasi oleh berbagai gagasan dan kondisi situasional

Sebagai sosiolog Parsons mengakui bahwa pusat perhatiannya pada teori mencakup analisa sistem sosial. Empat belas tahun setelah terbit The Structure of Social Action, Parsons menulis dan menerbitkan The Social System. Dalam buku itu Parsons menyajikan perbedaan-perbedaan analitis antara sistem-sistem sosial kepribadian maupun pola-pola kebudayaan. Oleh karena sistem sosial menjadi pusat perhatian Parsons, dia menelaah masalah integrasi dalam sistem sosial dengan pola-pola kebudayaan disatu pihak.

Parsons memandang institusionalisasi baik sebagai proses maupun struktur. Pada awalnya dia membicarakan proses institusionalisasi dan hanya mengacu pada hal itu sebagai suatu struktur. Sebagai suatu proses, institusionalisasi dapat digolongkan kedalam tipe-tipe tertentu dengan cara berikut :

  1. Para pelaku dengan beraneka ragam orientasi memasuki situasi tempat mereka harus berinteraksi
  2. Cara pelaku beorientasi merupakan pencerminan dari struktur kebutuhannya dan bagaimana struktur kebutuhan itu telah diubah oleh penjiwaan pola-pola kebudayaan
  3. Melalui proses interaksi tertentu, muncullah kaidah-kaidah pada saat pelaku saling menyesuaikan orientasi masing-masing
  4. Kaidah-kaidah itu timbul sebagai suatu cara saling menyesuaikan diri, dan juga membatasi pola-pola kebudayaan umum
  5. Selanjutnya kaidah-kaidah itu mengatur interaksi yang terjadi kemudian, sehingga tercipta keadaan stabil

Melalui cara-cara itu, pola-pola institusionalisasi tercipta, dipelihara, dan diubah. Apabila interaksi telah melembaga, maka dapat dikatakan terdapat suatu sistem sosial. Suatu sistem sosial tidak harus merupakan masyarakat yang menyeluruh, namun setiap pola interaksi yang diorganisasi baik secara mikro maupun makro, merupakan suatu sistem sosial. Apabila pusat perhatian diarahkan pada masyarakat secara total atau bagian-bagiannya yang mencakup himpunan pola-pola peranan yang terlembaga, Parsons menyebutnya sebagai sub-sistem. Parsons telah menyusun suatu sistem konseptual yang cukup rumit yang memberikan tekanan pada proses pelembagaan interaksi menjadi pola-pola mantap yang disebut sistem-sistem sosial, yang dipengaruhi oleh kepribadian dan dibatasi oleh kebudayaan. Pola-pola kedua sistem aksi yang sesungguhnya –kepribadian dan sosial – merupakan pencerminan pola-pola dominan orientasi-orientasi nilai dalam kebudayaan. Tekanan secara implisit pada pengaruh pola-pola kebudayaan dalam mengatur dan mengendalikan sistem-sistem aksi lainnya, menjadi semakin nyata dalam karya-karya Parsons kemudian.

Setelah menyusun suatu kerangka analisa, Parsons kembali pada pertanyaan yang diajukannya dalam The Structure of Social Action yang menjadi patokan bagi semua formulasi teoritisnya, yaitu bagaimanakah sistem-sistem sosial bertahan? Atau, secara lebih tegas, mengapa pola-pola interaksi yg telah melembaga dapat bertahan? Jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan jalan mengembangkan konsep-konsep tambahan yang menunjukkan bagaimana sistem-sistem kepribadian dan kebudayaan terintegrasi dalam sistem sosial, sehingga menjamin kesatuan normatif dan keterikatan para pelaku untuk mematuhi kaidah-kaidah dan memainkan peranannya. Bagaimanakah sistem-sistem kepribadian terintegrasikan dalam sistem sosial, sehingga mempertahankan keserasian? Pada taraf yang paling abstrak, parsons menyusun konsep dua mekanisme yg mengintegrasikan kepribadian kedalam sistem sosial, yaitu mekanisme sosialisasi dan pengendalian sosial. Melalui pengoprasian kedua mekanisme itu, sistem-sistem kepribadian menjadi struktur, sehingga sepadan dengan struktur sistem-sistem sosial.

Dalam artian abstraknya, parsons memandang mekanisme sosialisasi sebagai sarana tempat pola-pola kebudayaan – nilai-nilai, kepercayaan, bahasa, dan lambang-lambang lainnya –  diinternalisasikan kedalam sistem kepribadian, sehingga mencakup struktur kebutuhannya. Melalui proses ini, para pelaku akan mau menyimpan energi motivasionalnya dalam peranan dan kepada para pelaku diberikan ketrampilan untuk memainkan peran masing-masing. Fungsi lain sosialisasi dan mekanismenya adalah menjamin kestabilitas ikatan-ikatan antara pribadi yang menimbulkan berbagai tekanan. Mekanisme pengendalian sosial mencakup cara-cara dalam mana peranan-peranan kedudukan diorganisasikan dalam sistem-sistem sosial untuk mengurangi tekanan dan penyimpangan.

Kedua mekanisme tersebut dipandang sebagai unsur yang memecahkan salah satu masalah integratif yang dihadapi oleh sistem-sistem sosial. Masalah integratif lainnya yang dihadapi sistem-sistem sosial adalah bagaimana pola-pola kebudayaan berperan dalam memelihara tertib sosial dan keserasiannya. Parsons tidak lupa menyatakan bahwa mekanisme sosialisasi dan pengendalian sosial tidak selali berhasil, sehingga ada kemungkinan terjadinya penyimpangan dan perubahan sosial. Namun kiranya jelas bahwa konsep-konsep yang dikembangkan parsons dalam The Social System, menyajikan suatu analisa kearah proses-proses yang memelihara integrasi dan keserasian dalam sistem-sistem sosial.

sumber : Talcott Parsons – Soerjono Soekanto

Teori Talcott Parsons

TEORI TALCOTT PARSONS

Ulasan mengenai ajaran-ajaran pokok Talcott Parsons, tidak dapat dilepaskan dari aliran fungsionalisme dalam sosiologi. Konsep masyarakat sebagai organisme memperkenalkan tiga asumsi yang menjadi ciri aliran fungsionalisme dalam sosiologi, yakni :

  1. Realitas sosial dipandang atau divisualisasikan sebagai suatu sistem.
  2. Proses suatu sistem hanya dapat dipahami dalam kerangka hubungan timbal-balik antara bagian-bagiannya.
  3. Sebagaimana halnya dengan suatu organisme, suatu sistem terikat pada proses-proses tertentu yang bertujuan untuk mempertahankan integritas dan batas-batasnya.

Dengan demikian nyatalah, betapa pentingnya  untuk memahami struktur dan proses sosial secara memadai. Walaupun demikian, oleh karena ke tiga ciri itu dipengaruhi oleh analogi organismik, banyak masalah biologis yang tidak terungkap dalam teori-teori sosiologis. Dalam bentuknya yang paling ekstrim, teori-teori fungsional mencakup konsep-konsep, sebagai berikut :

  1. Sebagai sistem yang terikat dan terbatas, masyarakat mengatur dirinya sendiri dan cenderung menjadi suatu sistem yg tetap serta serasi
  2. Sebagai suatu sistem yg mengatur dirinya sendiri yang sama dengan suatu organisme, masyarakat mungkin mempunyai berbagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, apabila keserasiannya ingin dipertahankan
  3. Analisa sosiologis terhadap sistem yang mengatur dirinya sendiri dengan segala kebutuhannya harus dipusatkan pada fungsi bagian-bagian sistem dalam memenuhi kebutuhan dan memelihara keserasiannya
  4. Dalam sistem-sistem dengan berbagai kebutuhan, mungkin tipe-tipe struktur tertentu harus ada untuk menjamin ketahanannya.

Pada tahun 1937 Talcott Parsons menerbitkan bukunya The Structure of Social Action, yang merupakan hasil karya utamanya. Dalam buku tersebut Parsons mengembangkan realisme analitis untuk menyusun teori sosiologi. Ciri khas analitis Parsons adalah, usahanya untuk menerapkan konsep-konsep abstrak itu dalam analisa sosiologis.

sumber : Talcott Parsons – Soerjono Soekanto

Perangkat Peran – Merton

Teori Robert K. Merton : Perangkat Peran

Merton memulai analisa fungsional Teori Taraf Menengah mengenai perangkat peran ini dengan mendefinisikan status dan peran sebagaimana dibuat oleh Ralph Linton.

  • Status       : suatu posisi di dalam struktur sosial yang disertai dengan hak dan kewajibannya.
  • Peran        : pola tingkah laku yang diharapkan masyarakat dari orang yang menduduki status tertentu.

Menurut Linton, setiap status mempunyai satu peran. Setiap individu di dalam masyarakat memiliki banyak status yang disebutnya status-set. Oleh karena itu setiap individu juga memiliki banyak peranan dan disebutnya role-set (Wallance-Wolf, 1980:68).

Merton berusaha mengembangkan konsep Linton itu dengan memperkenalkan pikiran bahwa setiap status bukan saja memiliki satu peran melainkan sejumlah peran. Dia menamakan peran-peran itu dengan perangkat peran (role-set). Perangkat peran adalah kelengkapan dari hubungan-hubungan berdasarkan peran yang dimiliki oleh orang karena menduduki status-status sosial khusus (Merton, 1957:369). Menurut Merton, setiap individu dalam masyarakat memiliki bermacam-macam status, dan masing-masing status memiliki berbagai macam peran. Peran yang banyak itu dinamakannya “role-set” atau perangkat peran. Sedangkan status yang banyak itu dinamakannya perangkat-perangkat status atau status-set.

Merton lebih memusatkan perhatiannya pada perangkat peran daripada perangkat status. Tulisannya dikhususkan untuk menganalisa mekanisme sosial yang mengintegrasikan peran-peran yang banyak itu sehingga tidak terjadi konflik. Merton memusatkan analisanya pada struktur sosial dan menyelidiki elemen-elemen fungsional dan elemen-elemen disfungsional.

  • Elemen fungsional → elemen-elemen yang menghindari terjadinya ketidak-stabilan potensial (integrasi) di dalam diri orang yang mempunyai banyak peran itu.
  • Elemen disfungsional → elemen-elemen yang secara tidak sadar menciptakan ketidak-stabilan (konflik) dalam diri orang yang mempunyai banyak peran itu.

Contoh :

Perangkat peran seorang mahasiswa Perguruan Tinggi. Seorang mahasiswa dalam Perguruan Tinggi mempunyai peranan yang berbeda terhadap para dosen, mahasiswa-mahasiswa lainnya, pembimbing akademik, dekan, pegawai-pegawai, dan lain-lain. Dalam hubungan-hubungan itu, terdapat kemungkinan potensial untuk terjadinya konflik. Namun demikian, Merton menyebutkan empat mekanisme yang bisa mengurangkan konflik peranan itu :

  1. Intensitas keterlibatan dalam peran yang berbeda-beda
  2. Orang-orang yang terlibat dalam role-set bisa saja bersaing satu sama lain untuk memperoleh kekuasaan. Dalam situasi tertentu, keterlibatan mereka dalam konflik bisa saja memberikan lebih banyak otonomi kepada orang yang mempunyai peran tertentu itu.
  3. Peran itu cukup terisolir sehingga sulit diamati oleh orang-orang yang berada dalam role-set itu.
  4. Tingkat konflik yang dialami oleh anggota-anggota yang berada dalam role-set bisa diamati. Apabila menjadi jelas bahwa ada konflik, maka adalah tugas dari anggota-anggota role-set untuk menyelesaikan konflik itu.

Diskusi tentang role-set memberikan ilustrasi tentang penekanan Merton kepada analisa elemen-elemen disfungsional dan alternatif-alternatif fungsional. Merton melihat tuntutan-tuntutan struktur sosial yang tidak kompatibel atau menyebabkan konflik dan kemudian mencari tahu alternatif-alternatif fungsional. Sebagai seorang fungsionalis, Merton melihat role-set sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantungan dan mencari tahu bagaimana keteraturan antara bagian-bagian itu bisa dipertahankan.

by : dora

Analisis Mengenai Stratifikasi Sosial

Analisis Mengenai Stratifikasi Sosial

Sebenarnya, adanya stratifikasi sosial ini ditengah masyarakat merupakan masalah yang pelik dalam hubungan sosialisasi masyarakat.Tak jarang pula kita mendengar banyak terjadi konflik sosial akibat adanya stratifikasi sosial.Bagaimana nasib masyarakat yang berada di kelas/lapisan bawah? Mereka akan terus menjadi masyarakat yang tertutup karena mereka merasa rendah sehingga perkembangan dalam kelompok masyarakat dalam lapisan tersebut sangat sulit terjadi. Pelapisan sosial ini memberikan fasilitas hidup tertentu (life chance) dan membentuk gaya tingkah laku hidup (life style) bagi masing-masing anggotanya. Bila seseorang atau sekelompok masyarakat berada di lapisan atas dan memiliki status yang tinggi, mereka akan lebih mudah berkembang dan terbuka dalam hubungan sosialnya. Sulitnya memasuki lapisan atas dalam status sosial oleh masyarakat lapisan bawah juga merupakan masalah tersendiri yang sulit untuk dipecahkan. Kesulitan untuk berpindah lapisan sosial ini akan menimbulkan masalah-masalah dalam kelompok sosial, misalnya rasa tidak adil, merasa tidak mendapatkan hak yang semestinya, maupun kesenjangan sosial yang akhirnya akan menimbulkan konflik sosial ditengah masyarakat.

Beberapa pendapat sosiologis  mengatakan dalam semua masyarakat dijumpai ketidaksamaan di berbagai bidang misalnya saja dalam dimensi ekonomi. Sebagian anggota masyarakat mempunyai kekayaan yang berlimpah dan kesejahteraan hidupnya terjamin, sedangkan sisanya miskin dan hidup dalam kondisi yang jauh dari sejahtera. Dalam dimensi yang lain misalnya kekuasaan, sebagian orang mempunyai kekuasaan sedangkan yang lain dikuasai. Suka atau tidak suka inilah realitas masyarakat.Seringkali dalam pengalaman sehari-hari kita melihat fenomena sosial seperti seseorang yang tadinya mempunyai status tertentu di kemudian hari memperoleh status yang lebih tinggi dari pada status sebelumnya.Hal demikian disebut mobilitas sosial.Stratifikasi sosial akan selalu ditemukan dalam masyarakat selama di dalam masyarakattersebut terdapat sesuatu yang dihargai. Mungkin berupa uang atau benda-benda bernilaiekonomis, atau tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan agama, atau keturunankeluarga terhormat. Seseorang yang banyak memiliki sesuatu yang dihargai akandianggap sebagai orang yang menduduki pelapisan atas. Sebaliknya mereka yang hanyasedikit memiliki atau bahkan sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dihargai tersebut,mereka akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang-orang yang menempati pelapisanbawah atau berkedudukan rendah. pelapisan sosial dapat mempengaruhikehidupan masyarakat, seperti adanya perbedaan gaya hidup dan perlakuan darimasyarakat terhadap orang-orang yang menduduki pelapisan tertentu. Stratifikasi sosialjuga menyebabkan adanya perbedaan sikap dari orang-orang yang berada dalam stratasosial tertentu berdasarkan kekuasaan, privilese dan prestise.

Dalam lingkunganmasyarakat dapat terlihat perbedaan antara individu, atau satu keluarga lain, yang dapatdidasarkan pada ukuran kekayaan yang dimiliki.Yang kaya ditempatkan pada lapisanatas, dan miskin pada lapisan bawah.Atau mereka yang berpendidikan tinggi berada dilapisan atas sedangkan yang tidak sekolah pada lapisan bawah.Dari perbedaan lapisansosial ini terlihat adanya kesenjangan sosial.Hal ini tentu merupakan masalah sosialdalam masyarakat. Perbedaan sikap tersebut tercermin dari gaya hidup seseorang sesuai dengan stratasosialnya. Pola gaya hidup tersebut dapat dilihat dari cara berpakaian, tempat tinggal,cara berbicara, pemilihan tempat pendidikan, hobi dan tempat rekreasi.

Pengaruh atau dampak stratifikasi sosial pada kehidupan masyarakat sangat besar dan berpengaruh. Karena dengan kelas sosial yang ada akan menyediakan masyarakat dengan apa yang mereka butuhkan. Stratifikasi sosial dalam masyarakat digambarkan mengerucut atau seperti piramida, hal ini disebabkan semakin tinggi kelas sosial, semakin sedikit pula jumlah yang menempatinya. Adapun dampak stratifikasi sosial pada dalam kehidupan masyarakat adalah :

  1. 1. Eklusivitas

Stratifikasi sosial yang membentuk lapisan-lapisan sosial juga merupakan sub-culture, telah menjadikan mereka dalam lapisan-lapisan gtertentu menunjukan eklusivitasnya masing-masing. Eklusivitas dapat berupa gaya hidup, perilaku dan juga kebiasaan mereka yang sering berbeda antara satu lapisan dengan lapisan yang lain.Gaya hidup dari lapisan atas akan berbeda dengan gaya hidup lapisan menengah dan bawah. Demikian juga halnya dengan perilaku masing-masing anggotanya dapat dibedakan; sehingga kita mengetahui dari kalangan kelas social mana seseorang berasal.Eklusivitas yang ada sering membatasi pergaulan diantara kelas social tertentu, mereka enggan bergaul dengan kelas social dibawahnya atau membatasi diri hanya bergaul dengan kelas yang sanma dengan kelas mereka.

  1. 2. Etnosentrisme

Etnosentrisme dipahami sebagai mengagungkan kelompok sendiri dapat terjadi dalam stratifikasi social yang ada dalam masyarakat. Mereka yang berada dalam stratifikasi social atas akan menganggap dirinya adalah kelompok yang paling baik dan menganggap rendah dan kurang bermartabat kepada mereka yang berada pada stratifikasi sosial rendah.Pola perilaku kelas social atas dianggap lebih berbudaya dibandingkan dengan kelas social di bawahnya. Sebaliknya kelas social bawah akan memandang mereka sebagai orang boros dan konsumtif dan menganggap apa yang mereka lakukan kurang manusiawi dan tidak memiliki kesadaran dan solidaritas terhadap mereka yang menderita. Pemujaan terhadap kelas sosialnya masing-masing adalah wujud dari etnosentrisme.

  1. 3. Konflik Sosial

Perbedaan yang ada diantara kelas social dapt menyebabkan terjadinya kecemburuan social maupun iri hati. Jika kesenjangan karena perbedaan tersebut tajam tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik social antara kelas social satu dengan kelas social yang lain.Misalnya demonstrasi buruh menuntut kenaikan upah atau peningkatan kesejahteraan dari perusahaan dimana mereka bekerja adalah salah satu konflik yang terjadi karena stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat.

Meskipun begitu, stratifikasi sosial juga memiliki dampak positif bagi masyarakat. Pengaruh positif dari stratifikasi sosial itu sendiri adalah orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan. Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.

created by : dora ;)

Sistem Pembentuk Stratifikasi Sosial

Sistem-sistem yang Membentuk Stratifikasi Sosial

a)      Sistem Kekastaan

†kasta adalah kategori dimana para anggotanya ditunjuk dan ditetapkan status yang permanen dalam hierarki (lapisan vertikal) sosial, serta hubungan-hubungannya yang dibatasi oleh status yang dimilikinya.

b)      Kelas Sosial

†terdiri dari sejumlah orang yang memiliki status sosial baik ascribed status, achieved status, dan assigned status.

c)      Sistem Feodal

†terdiri dari kaum raja, bangsawan/tuan tanah, ksatria, petani.

d)     Sistem Apartheit

†pemisahan yang terjadi antara golongan penduduk yang berkulit hitam dengan golongan penduduk yang berkulit putih.

Sifat stratifikasi sosial terbagi menjadi dua, yaitu closed social stratification (pelapisan sosial tertutup) dan open social stratification (pelapisan sosial terbuka). Pelapisan sosial tertutup adalah tertutupnya seseorang atau sekelompok orang untuk pindah dari lapisan sosial satu ke lapisan sosial lainnya secara vertikal.Contohnya pada masyarakat feodal dan sistem kekastaan yang kuat sehingga sulit bagi seseorang atau sekelompok orang untuk berpindah status sosial maupun berpindah kasta.Dalam pelapisan berdasarkan ras manusia juga dapat dijumpai sistem pelapisan sosial tertutup.Sedangkan, pelapisan sosial terbuka adalah terbukanya seseorang atau sekelompok orang untuk pindah dari lapisan sosial satu ke lapisan sosial lainnya secara vertikal.Status sosial pada sifat pelapisan sosial terbuka ini dapat diperoleh melalui perjuangan untuk memperoleh status sosial yang diharapkan serta adanya keahlian dan keterampilan dari masing-masing individu.

Dilihat dari proses terjadinya, status sosial dibagi menjadi tiga :

  1. Ascribed Status : kedudukan sosial seseorang yang diperoleh secara otomatis melalui kelahiran atau keturunan. Status ini diperoleh tanpa usaha tertentu bagi yang mendudukinya, bukan atas inisiatifnya sendiri.

Contoh ” orang keturunan bangsawan (berdarah biru) atau keratin

  1. Achieved Status:  status yang diperjuangkan. Suatu kedudukan yang dicapai seseorang melalui usaha-usaha yang disengaja atau melalui perjuangan. Status sosial ini bersifat terbuka asalkan memenuhi syarat-syarat tertentu. Status ini tertutup untuk kasta.

Contoh ” status sebagai mahasiswa

  1. Assigned Status : status yang diberikan. Adalah status sosial yang diberikan kepada seseorang yang berjasa dan telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat.

Contoh :

“status yang diberikan kepada Bapak Soeharto sebagai Bapak Pembangunan

“status yang diberikan kepada Bapak Soekarno sebagai Bapak Proklamator

Fungsi Stratifikasi Sosial itu sendiri adalah :

  1. Menurut Kingsley Davis dan Wilbert Moore

†mendorong individu untuk menempati status-status sosial tertentu.

  1. Menurut Karl Marx dan Max Weber

†mendorong timbulnya konflik sosial akibat dari ketidak adilan sosial.

  1. Menurut Soerjono Soekanto

†memberikan fasilitas hidup tertentu (life chance) dan membentuk gaya tingkah laku hidup (life style) bagi masing-masing anggotanya.

Stratifikasi Sosial

Pengertian Stratifikasi Sosial

  • Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk/masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).Pitirim A. Sorokin dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.
  • Stratifikasi sosial menurut Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
  • Stratifikasi sosial menurut Soerjono Soekanto adalah pembedaan posisi seseorang atau kelompok dalam kedudukan berbeda-beda secara vertikal baik pada masyarakat tradisional maupun masyarakat modern yang heterogen atas dasar kedudukan yang diperoleh melalui perjuangannya untuk melangsungkan interaksinya dalam masyarakat.

Pengertian stratifikasi sosial itu sendiri secara umum adalah penggolongan-penggolongan manusia secara bertingkat (hierarkis).Dasar penggolongannya adalah kedudukan atau status sosial yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang.Akibat adanya penggolongan-penggolongan tersebut adalah perbedaan antar hak, kesempatan, dan kewajiban masing-masing individu/kelompok. Gejala penggolongan-penggolongan manusia berdasarkan kriteria sosial secara vertikal merupakan gejala yang telah lazim di setiap kehidupan manusia di dalam kelompok dan merupakan proses sosial yang bersifat alamiah.

Agama Hindu mengklasifikasikan manusia dalam kasta-kasta sosial :

  1. Kasta Brahmana  : kelompok yang menduduki sebagai pemuka agama
  2. Kasta Ksatria       :kelompok yg strata sosialnya sebagai bangsawan/birokrat
  3. Kasta Waisya       : kelompok yang ditempati oleh petani dan pedagang
  4. Kasta Sudra         : kelompok buruh, abdi, pekerja
  5. Kasta Paria          : kelompok para gelandangan, orang gila, dan pengemis

Dasar-dasar Pembentukan Pelapisan Sosial

  1. Ukuran Kekayaan

Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.

  1. Ukuran Kekuasaan dan Wewenang

Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

  1. Ukuran Kehormatan

Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

  1. Ukuran Ilmu Pengetahuan

Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

thanks :)

pendapat mengenai Georg Simmel

PENDAPAT MENGENAI GAGASAN SIMMEL

Dalam hal mengkritisi gagasan Georg Simmel, kelompok kami memiliki beberapa pendapat, misalnya bahwa penitikberatannya pada bentuk mengandaikan adanya tatanan yang sebenarnya tidak ada, dan bahwa kelihatannya ia agak kebingungan ketika melihat struktur sosial, di satu sisi hanya sebgai bentuk interaksi dan di sisi lain sebagai sesuatu yang koersif dan terlepas dari interaksi. Kritiknya adalah bahwa Simmel tidak mengusulkan jalan keluar dari tragedi kebudayaan, karena ia memandang keterasingan sebagai bagian dari kondisi manusia.bagi Simmel, putusnya hubungan antara kebudayaan subyektif dengan kebudayaan obyektif lebih sebagai bagian dari “harkat manusia”. Sifat Simmel yang tidak terlalu percaya diri karena adanya hambatan dari latar belakang hidupnya sebagai seorang Yahudi yang hidup di era Antisemitisme, sehingga karya-karyanya tidak terpublikasi dengan baik.

Tak diragukan lagi kritik kepada Simmel yang paling sering dikutip adalah karakter karya-karyanya yang terpisah-pisah. Simmel dituduh tidak mempunyai pendekatan teoritis koheren, namun hanya memiliki serangkaian pendekatan framentaris atau “impresionistik”. Memang benar bahwa seperti kita kemukakan disini, Simmel memfokuskan perhatiannya pada bentuk dan tipe asosiasi, dan hal tersebut nyaris bukan merupakan kesatuan teoritis seperti yang dapat ditemukan pada pemikiran para pendiri sosiologi lainnya. Karakter karya Simmel itu sendiri : berseraknya topik, kegagalannya mengintegrasikan materi-materi terkait, kekurangan pernyataan umum koheren, dan sikap ceroboh terhadap tradisi akademik. Meskipun  Simmel memiliki pendekatan unik, namun harus ia akui bahwa di tengah-tengah keberhasilan keilmuan Simmelian, bagi para pembaca tetap tersisa pengalaman Simmel yang tak terabaikan sebagai seorang penulis yang tidak sistematis. Banyak orang menganggap bahwa karyanya sangat menarik, namun hampir tidak seorang pun yang tahu bagaimana mempraktikkannya sebagai pendukung mati-matian ilmu sosial Simmelian.

Meski sangat sedikit orang yang menganut pemikiran Simmelian,  Simmel acap diakui sebagai  seorang “inovator gagasan dan tolok ukur teoritis”. Inilah yang benar-benar diinginkan Simmel.

“Aku tahu bahwa aku akan mati tanpa menjadi pewaris tahta spiritual (dan itu baik). Lahan yang kutinggalkan seperti halnya uang yang dibagikan kepada begitu banyak ahli waris, mereka akan menggunakannya untuk perdagangan yang sesuai dengan sifatnya masing-masing,namun tidak dapat lagi dipandang berasal dari lahan tersebut.”

Konsekuensinya, Simmel seringkali dipandang sebagai sumber alami bagi wawasan yang harus digali bagi hipotesis empiris ketimbang sebagai satu kerangka kerja koheren bagi analisis teoritis.

Karya Simmel bersifat fragmentaris.jika hal itu yang dijadikan untuk menilai Simmel, jelas ia dinilai dari kegagalan gagasannya yang hanya dapat diselamatkan oleh karya  yang dilakukan oleh para penerus ilmiahnya. Karya Simmel terdapat “elemen humanisme lebih besar yang tidakdapat direduksi dan… selalu ada kemungkinan untuk mengambil sesuatu yang penting darinya secara langsung, yang tidak dapat diserap oleh proposisi ilmiah yang impersonal.”

Dengan seluruh teoretisi klasik ini, penting bagi kita untuk membaca tulisan-tulisan aslinya, sekalipun dalam versi terjemahan. Namun hal yang lebih berlaku lagi pada Simmel. Tidak ada pengganti bagi salah satu esai Simmel dan ajarannya tentang bagaimana melihat gaya atau permainan atau orang asing atau kerahasiaan dengan cara yang baru.

by : kelompok Georg Simmel – Sosiologi ’10 FISIP UNS

Pertikaian dan Persaingan : Georg Simmel

  1. Pertikaian

Signifikansi Sosiologis dari pertikaian, secara prinsipil belum pernah disangkal. Pertikaian dapat menjadi penyebab atau pengubah kelompok-kelompok kepentingan, organisasi-organisasi, kesatuan-kesatuan, dsb. Dalam kenyataan, faktor-faktor disosiatif seperti kebencian, kecemburuan, dan selanjutnya, memang merupakan penyebab terjadinya pertikaian. Dengan demikian, pertiakaian ada untuk mengatasi pelbagai dualisme yang berbeda. Pertikaian mengatasi ketegangan antara hal-hal yang bertentangan.

Terdapat dua masalah yang secara konsisten menjadi objek telaah ilmu-ilmu tentang manusia, yakni manusia dan kelompok, sehingga tidak ada masalah ketiga. Ada pertikaian yang tampaknya menyampingkan semua unsur, seperti misalnya, apabila terjadi perkelahian antara perampok dengan korbannya. Apabila perkelahian itu bertujuan untuk membunuh atau menghancurkan pihak lain, maka sama sekali tidak ada unsur-unsur pemersatu. Namun apabila ada pembatasan terhadap berlakunya kekerasan, maka ada faktor kerjasama, walaupun hanya sebagai suatu kualifikasi terhadap kekerasan.

  1. Persaingan

Suatu ciri yang menonjol dari persaingan adalah bahwa dalam proses itu terjadi pertikaian yang tidak langsung. Apabila satu pihak menindas musuhnya atau merugikannya secara langsung, maka tidak terjadi persaingan. Secara umum persaingan hanya menunjuk pada kegiatan yang dilakukan secara paralel, untuk mencapai tujuan yang sama. Pada persaingan terdapat dua kombinasi :

a)      Apabila suatu kemenangan terhadap lawan merupakan kebutuhan pertama secara kronologis, maka hal itu sendiri tak akan ada artinya. Dengan demikian, hasil suatu persaingan tidak berisikan tujuannya, sebagaimana halnya apabila seseorang marah, balas dendam, dan lain sebagainya, yang merupakan unsur yang mendorong terjadinya perkelahian.

b)      Tipe persaingan yang kedua sangat berbeda dengan bentuk atau jenis pertikaian lainnya. Dalam hal ini persaingan hanya berlangsung antara pihak-pihak, tanpa usaha menyingkirkan lawan. Yang menjadi prioritas utama adalah tujuan, dan bukan lawan.

Persaingan secara modern digambarkan sebagai suatu perjuangan dari semua terhadap semua, dan dari semua untuk semua. Tidak jarang sebagai akibatnya timbul tragedi yang berakibat unsur-unsur sosial suatu kesatuan saling bertentangan. Akan tetapi semua akibat tersebut, sebenarnya merupakan tambahan pada kekuatan persaingan untuk mempersatukan. Persaingan, secara sosiologis merupakan suatu jaringan konsentrasi terhadap pikiran, perasaan, dan kemauan sesama manusia.