SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Review buku das-log : Pengembangan Kepribadian
March 28th, 2011 by aldoranuary26

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Tugas Meresume Buku

Mata kuliah : Dasar-dasar Logika

Judul : Pengembangan Kepribadian

Nama : Aldora Nuary Wismianti NIM : D0310008

Pengampu : Akhmad Ramdhon, S.Sos, MA

Buku “Pengembangan Kepribadian” oleh Euis Winarti

Buku ini menjelaskan banyak hal mengenai pengembangan diri. Sebelum kita masuk ke dalam penjelasan mengenai pengembangan kepribadian secara lebih lanjut, hendaknya kita mengetahui apa tujuan mempelajari kepribadian, pengertian kepribadian itu sendiri, dan tentunya faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian. Ada beberapa tujuan pelajaran kepribadian, yaitu :

  1. Untuk mempelajari bagaimana seharusnya kita menerima diri kita
  2. Untuk mengembangkan perasaan harga diri dan percaya diri
  3. Untuk meningkatkan pengertian diri, nilai-nilai diri, serta kebutuhan diri, agar dapat mengontrol serta membantu orang lain melakukan hal yg sama
  4. Untuk memperoleh pengertian yg lebih baik mengenai kepribadian seseorang
  5. Untuk mempelajari perubahan-perubahan dalam gaya hidup (life style), tujuan, serta keputusan-keputusan di dalam kehidupan kita masing-masing

Menurut seorang tokoh yaitu G. W. Allpont pengertian kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dalam diri individu yang sistem psikofisiknya menentukan karakteristik, tingkah laku, serta cara berpikir seseorang. Dari pengertian tersebut, kita mendapat gambaran bahwa kepribadian itu adalah merupakan keadaan dalam diri seseorang yang menentukan bagaimana penampilannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Carl Rogers mengemukakan 3 karakteristik tentang pribadi yang telah berfungsi penuh (Fully Functioning Person) :

  1. Terbuka terhadap pengalaman baru
  2. Selalu dalam proses “menjadi” (becoming)
  3. Kepercayaan pada diri sendiri

Bagaimana kepribadian itu berkembang? 3 faktor yang menentukan dalam perkembangan kepribadian adalah :

  1. Faktor bawaan. Unsur ini terdiri dari bawaan genetik yang menentukan fisik primer (warna, mata, kulit). Selain itu juga kecenderungan-kecenderungan dasar misalnya kepekaan dan penyesuaian diri. Contoh : rambut ikal seorang anak karena salah satu orangtua berambut ikal, bakat anak menurun dari orangtua.
  2. Faktor Lingkungan. Faktor lingkungan seperti sekolah, atau lingkungan sosial/budaya seperti teman dan guru, dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian. Contoh : perluasan wawasan melalui pendidikan formal/informal dan pergaulan.
  3. Interaksi antara bawaan serta lingkungan. Interaksi yang terus menerus antara bawaan serta lingkungan menyebabkan timbulnya perasaan aku/diriku dalam diri seseorang. Contoh : pengalaman masa kanak-kanak, anak yang sering dipukul maka cenderung pada saat dewasa menjadi sadis/kejam.

Kehidupan kita sehari-hari dipengaruhi oleh sikap, baik sikap kita terhadap diri kita maupun sikap kita terhadap orang lain. Sikap (attitude) adalah :

–          Cara kita melihat sesuatu secara mental yang mengarah pada perilaku yang ditujukan pada orang lain, ide, objek, dan kelompok tertentu.

–          Cara kita mengkomunikasikan suasana hati kepada orang lain dan juga merupakan cerminan jiwa, cara kita melihat sesuatu secara mental.

Sikap memiliki 2 bentuk, yaitu sikap positif dan sikap negatif. Sikap positif adalah perwujudan nyata dari suasana jiwa yang terutama memperhatikan hal-hal yang positif. Ini adalah suasana jiwa yang lebih mengutamakan kegiatan kreatif daripada kegiatan yang menjemukan, kegembiraan daripada kesedihan, harapan daripada keputusasaan. Sikap negatif harus dihindari karena hal ini mengarahkan seseorang pada kesulitan diri dan kegagalan.

Kepribadian seseorang ada dalam benak orang lain. Kepribadian kita lebih terletak pada apa yang kita tampilkan dan bukan bagaimana kita memandang diri kita sendiri dan sikap yang positif begitu kuatnya sehingga dapat memperkuat ciri-ciri kepribadian, sedangkan sikap negatif dapat meniadakan karakteristik-karateristik yang seyogyanya menarik. Itulah pentingnya peran sikap positif dalam kepribadian. Bagaimana kita tahu apa yang ada di benak orang lain mengenai kepribadian kita? Tentunya melalui komunikasi timbal balik antara satu orang dengan orang lain. Sekarang mari kita membahas lebih lanjut mengenai komunikasi dan pengungkapan diri (self declosure). Komunikasi adalah bentuk penyampaian dan penerimaan suatu pesan. Tidak dapat diingkari bahwa sesungguhnya sebagian besar aktifitas manusia sehari-hari melibatkan komunikasi. Tidaklah dapat dibayangkan bila masyarakat, betapapun kecilnya, dapat bertahan apalagi berkembang tanpa komunikasi. Komunikasi merupakan proses sosial yang fundamental dalam masyarakat. Melalui proses komunikasi ini pulalah proses personal berlanjut untuk saling berbagi rasa dan arti. Komunikasi memiliki 4 tipe :

  1. Komunikasi Intrapersonal. Komunikasi intrapersonal adalah tipe komunikasi yang dilakukan dengan diri sendiri, yaitu pada saat kita sedang memikirkan sesuatu. Misalnya pada waktu kita akan mengambil suatu keputusan. Contoh lain dari tipe komunikasi ini adalah saat semedi, sembahyang, dan saat melamun.
  2. Komunikasi Interpersonal. Komunikasi tipe ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, baik terjadi antara dua orang maupun dalam kelompok kecil.
  3. Komunikasi Environmental (Lingkungan). Komunikasi ini terjadi apabila kita melakukan pengamatan terhadap obyek-obyek yang ada disekeliling kita atau suara-suara yang ada atau bahkan aroma-aroma tertentu yang tersebar disekeliling kita.
  4. Komunikasi Publik (Khalayak). Merupakan komunikasi antara seseorang (pembicara) kepada sekelompok hadirin (khalayak) pada suatu waktu dan tempat. Komunikasi dengan publik ini, apabila dilakukan dengan menggunakan sarana (media) seperti surat kabar, radio, TV, ataupun majalah, maka akan disebut sebagai komunikasi massa.

Pada umumnya ada tiga faktor penentu dalam suatu proses komunikasi, yaitu manusia, kebutuhan, minat, relevansi berita ataupun pesan bagi komunikan, dan ketepatan atau kesesuaian penggunaan media, alat, saluran, dan metode penyampaian informasi/pesan/berita dari komunikator. Ada pula faktor-faktor yang menunjang keberhasilan komunikasi, yaitu : keterpercayaan, adanya hubungan (pertalian), kepuasan, kejelasan, kesinambungan dan konsisten, kemampuan pihak pendengar (penerima berita), dan saluran pengiriman berita. Disamping itu, ada saat-saat kita menjalin komunikasi dengan orang lain bukan melalui suara, melainkan melalui sikap tubuh (body language) dan ekspresi non-verbal. Bahasa tubuh yang terbentuk melalui isyarat-isyarat dengan mempergunakan anggota tubuh manusia merupakan bawaan khas setiap orang yang diperoleh akibat pengaruh genetik dan berkembang mengikuti pola perkembangan di lingkungan hidup beserta kebudayaan dimana seseorang hidup secara dominan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita terpaksa harus berbicara di depan umum. Untuk dapat berbicara menarik dan jelas sehingga mencapai tujuan, perlu dipahami prinsip-prinsip dan teknik berbicara yang efektif.

I. DASAR-DASAR BERBICARA EFEKTIF

  1. Memperoleh kecakapan dasar (belajar dari pengalaman orang lain, mempertahankan tujuan, memutuskan terlebih dahulu tekad untuk sukses, dan mencari kesempatan untuk melatih diri)
  2. Mengembangkan keyakinan (kenyataan tentang rasa takut untuk berbicara dihadapan umum serta mempersiapkan diri dengan cara yang baru, misal : jangan menghafalkan, kumpulkan dan susunlah terlebih dahulu apa yang akan dibicarakan, berlatih berbicara)
  3. Cara yang tepat dan mudah untuk berbicara secara efektif :
    1. membicarakan sesuatu yang pantas untuk dibicarakan berdasarkan pengalaman atau penyelidikan (contoh : ceritakan segala sesuatu dalam hidup ini yang menjadi pelajaran, carilah topik dengan latar belakang kehidupan kita)
    2. yakin pada diri sendiri bahwa kita bersemangat dengan pokok pembicaraan kita
    3. bersemangatlah untuk membagikan percakapan kita dengan pendengar

II. PRINSIP-PRINSIP BERBICARA EFEKTIF

  1. Prinsip motivasi (minat). Dalam berbicara, agar pembicaraan dapat efektif hendaknya minat para pendengar dibangkitkan.
  2. Prinip perhatian. Pembicaraan akan berhasil bila pembicara dapat menarik perhatian para hadirin (contoh : hal-hal yang aneh, lucu, mencolok, tiba-tiba terjadi, ataupun hal-hal yang sesuai dengan kebutuhan).
  3. Prinsip keindraan (audio visual). Pembicaraan akan mudah ditangkap oleh para hadirin bila disajikan sedemikian rupa sehingga pendengaran, penglihatan dan tangan hadirin dapat aktif.
  4. Prinsip pengertian. Hal-hal yang dimengerti mudah dihafalkan atau mudah ditanam dalam pikiran seseorang.
  5. Prinsip ulangan. Hal-hal yang diulang-ulang akan lebih meresap dalam jiwa, sehingga mudah diingat kembali.
  6. Prinsip kegunaan. Hal-hal yang dirasa ada gunanya akan tetap tinggal lama dalam ingatan seseorang.

III. GAYA BERBICARA

Gaya berbicara adalah cara kita membawakan diri di depan umum atau cara penampilan diri. Penampilan diri ini termasuk gerak-gerik air muka (mimik) dan gerak-gerik badan serta anggota. Hal-hal yang perlu diperhatikan bila berbicara di depan umum adalah :

  1. Pakaian. Pakaian hendaknya rapi (teratur, tidak awut-awutan/lusuh), lengkap (sesuai dengan apa yang seharusnya), dan sopan (pantas).
  2. Sikap badan dan cara berdiri. Hendaknya pembicara berdiri tegak bersemangat (ini akan meningkatkan semangat para hadirin) dengan sikap yang baik dan berdiri di tempat yang jelas bagi seluruh hadirin.
  3. Pandangan mata. Pandangan mata yang baik adalah adil. Artinya, menyeluruh tetapi cara melihatnya berganti-ganti.
  4. Air muka dan tangan. Air muka dan tangan hendaknya mengikuti isi pembicaraan.
  5. Sikap jiwa. Sikap hendaknya tegas (sikap tegas menyebabkan para hadirin dapat menghargai penceramah) dan jangan ragu-ragu. Untuk dapat tegas, kita harus percaya pada diri sendiri dan untuk dapat percaya pada diri sendiri, kita harus menguasai materi atau bahan pembicaraan.
  6. Suara. Suara hendaknya jelas, artinya pengucapan-pengucapan kata tepat sehingga tidak kabur. Suara hendaknya tidak monoton, cara bicara wajar saja. Artinya, gaya bicara seperti pembicaraan sehari-hari. Suara hendaknya bersemangat.
  7. Tulisan. Bila terpaksa menulis di papan, maka tulisan harus jelas dan cukup besarnya sehingga dapat terbaca oleh seluruh publik.

Setelah kita mengetahui secara mendalam mengenai penjelasan tentang komunikasi, ada satu hal lagi yang harus diperhatikan. Hal tersebut adalah etika. Dalam berkomunikasi, tentunya kita harus memiliki etika dalam berbicara maupun bertindak di hadapan orang lain. Etika merupakan terjemahan dari bahasa Inggris : ethic atau ethics, yang mempunyai dua pengertian :

  1. A body of moral principles or values (himpunan azas-azas moral atau nilai-nilai)
  2. Ethical, pertaining to right and wrong in conduct (etis berkaitan dengan perilaku benar atau salah)

Perbedaan etika dengan etiket adalah, etiket merupakan terjemahan dari bahasa Inggris dan bahasa Perancis “etiquette” yang berarti : persyaratan konvensional mengenai perilaku sosial. Dalam kamus Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengartikan etiket sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan. Dari pengertian tersebut, jelaslah bahwa seseorang dapat beretika seandainya mengetahui etiket, karena hal-hal itulah yang nantinya mencerminkan sikap dan perilaku seseorang. Hidup adalah interelasi dengan sesama. Interelasi ini memerlukan tata krama (manners) dan tata cara (etiquette). Etiket di dalam tata krama pergaulan adalah petunjuk bagaimana tata cara berperilaku agar dapat diterima oleh sebuah masyarakat yang menuntut sopan santun. Hal yang harus diketahui adalah, salah satu yang terpenting dari kiat-kiat sukses dalam interpersonal relationship skill (keterampilan hubungan sesama) yang baik adalah mengikuti etiket yang berlandaskan etika. Kita akan selalu merasa nyaman bergaul bila spontanitas kita yang muncul adalah sikap-sikap yang kita miliki. Bila kita belajar cara-cara berperilaku yang benar, peka, punya sikap spontan menolong orang kesusahan, maka kita telah berjalan menuju sukses dalam Interpersonal Relationship Skill.

Kesan seseorang terhadap diri kita dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat pada diri kita. Untuk itu, kita harus memberikan kesan pertama yang baik yang dapat terwujud melalui penampilan keseluruhan yang menarik. Kesan pertama itu penting sekali untuk diperhatikan, karena akan meninggalkan perasaan mendalam untuk jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan penampilan secara keseluruhan. Contohnya : pakaian, penyesuaian gaya berbusana, aksesori, dan warna pakaian sesuai dengan kondisi, tempat, dan suasana. Selain itu, kita juga harus memperhatikan kebersihan diri kita.

Sumber : Winarti, Euis. 2007. Pengembangan Kepribadian. Yogyakarta : Graha Ilmu


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
= 5 + 8

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa