SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Pendekatan Fungsional dan Konflik
December 22nd, 2010 by aldoranuary26

Pendekatan Fungsional dan Pendekatan Konflik


PENDEKATAN FUNGSIONAL

Sudut pendekatan yang perlu mendapatkan perhatian pertama kali adalah sebuah pendekatan yang menjadi amat berpengaruh di kalangan para ahli sosiologi. Sudut pendekatan tersebut menganggap bahwa masyarakat, pada dasarnya, terintegrasi di atas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu, suatu general agreements yang memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat. Ia memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk equilibrium. Oleh karena sifatnya yang demikian, maka aliran pemikiran tersebut disebut sebagai integration approach, order approach, equilibrium approach, atau dengan lebih popular disebut sebagai structural-functional approach (pendekatan fungsional structural)

Pendekatan fungsionalisme struktural terlalu menekankan anggapan-anggapan dasarnya pada peranan unsur-unsur normatif dari tingkah laku sosial, khususnya pada proses-proses dengan mana hasrat-hasrat perseorangan diatur secara normatif untuk menjamin terpeliharanya stabilitas sosial. Sebaliknya, apa yang oleh David Lockwood disebut sebagai sub stratum, yakni disposisi-disposisi yang mengakibatkan timbulnya perbedaan-perbedaan  life chances dan kepentingan-kepentingan yang tidak bersifat normatif, tidak memperoleh tempat yang wajar di dalam pemikiran-pemikiran para penganut pendekatan fungsionalisme struktural. Dengan pernyataannya itu, David Lockwood ingin menegaskan kepada kita kenyataan bahwa setiap situasi sosial senantiasa mengandung di dalam dirinya dua hal, yakni : tata tertib sosial yang bersifat normatif, dan sub-stratum yang melahirkan konflik-konflik. Tata tertib dan konflik adalah dua kenyataan yang melekat bersama-sama di dalam setiap sistem sosial. Tumbuhnya tata tertib sosial atau sistem nilai yang disepakati bersama oleh para anggota masyarakat, sama sekali tidak berarti lenyapnya konflik di dalam masyarakat. Sebaliknya, tumbuhnya tata tertib sosial justru mencerminkan adanya konflik yang bersifat potensial di dalam setiap masyarakat.

Para penganut pendekatan fungsionalisme struktural kemudian menganggap bahwa disfungsi, ketegangan-ketegangan, dan penyimpangan-penyimpangan sosial yang mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan kemasyarakatan dalam bentuk tumbuhnya diferensiasi social yang semakin kompleks, adalah akibat daripada pengaruh faktor-faktor yang datang dari luar. Pendekatan fungsionalisme struktural dipandang oleh banyak ahli sosiologi sebagai pendekatan yang bersifat reaksioner, dan oleh karenanya dianggap kurang mampu menganalisa masalah-masalah perubahan kemasyarakatan.

PENDEKATAN KONFLIK

Conflic approach (pendekatan konflik) masih dapat kita bedakan atas dua macam pendekatan yang lebih kecil, yakni structuralist – Marxist dan Structuralist –  non-Marxist. Berbeda dari fungsionalisme structural, maka pandangan pendekatan konflik berpangkal pada anggapan-anggapan dasar berikut :

1.      Setiap masyarakat senantiasa berada di dalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir, atau dengan perkataan lain, perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat.

2.      Setiap masyarakat mengandung konflik-konflik di dalam dirinya, atau dengan kata lain, konflik adalah merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat.

3.      Setiap unsur di dalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan-perubahan sosial.

Perubahan sosial, oleh para penganut pendekatan konflik tidak saja dipandang sebagai gejala yang melekat di dalam kehidupan setiap masyarakat, akan tetapi lebih daripada itu malahan dianggap “bersumber” di dalam faktor-faktor yang ada di dalam masyarakat itu sendiri, suatu hal yang kurang diperhatikan oleh para penganut pendekatan fungsionalisme struktural. Para penganut pendekatan konflik mengatakan bahwa di dalam setiap masyarakat selalu terdapat konflik antara kepentingan dari mereka yang memiliki kekuasaan otoritatif berupa kepentingan untuk memelihara atau bahkan mengukuhkan status-quo dari pola hubungan-hubungan kekuasaan yang ada, dengan kepentingan mereka yang memiliki kekuasaan otoritatif, berupa kepentingan untuk mengubah atau merombak status-quo dari pola hubungan-hubungan tersebut.

Masing-masing kelompok yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda berakar di dalam kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan satu sama lain, maka kelompok-kelompok kepentingan itu pun akan senantiasa berada di dalam situasi konflik pula. Sementara itu, sebagaimana kita ketahui, konflik tersebut timbul sebagai akibat dari adanya kenyataan bahwa di dalam setiap masyarakat selalu terdapat distribusi otoritas yang terbatas adanya. Dari situlah asal mulanya mengapa para penganut pendekatan konflik dengan penuh keyakinan menganggap bahwa konflik adalah merupakan gejala kemasyarakatan yang akan senantiasa melekat di dalam kehidupan setiap masyarakat, dan oleh karenanya tidak mungkin dilepaskan. Melalui mekanisme pengendalian konflik-konflik sosial yang efektif, konflik-konflik sosial diantara berbagai-bagai kelompok kepentingan justru akan menjadi kekuatan yang mendorong terjadinya perubahan-perubahan sosial yang tidak akan mengenal akhir.

Pandangan para penganut pendekatan konflik tersebut bukan tidak mengandung kelemahan-kelemahan, akan tetapi jelas bahwa pandangan tersebut menutup kelemahan-kelemahan yang kita jumpai pada pandangan para penganut pendekatan fungsionalisme struktural. Oleh karena itu mensintesakan keduanya untuk menganalisa bagaimana suatu sistem sosial bekerja, merupakan tindakan yang lebih menguntungkan daripada menggunakan salah satu diantaranya secara tersendiri.


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
= 3 + 9

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa