SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Ujian KD III Kuantitatif
Jun 5th, 2012 by aldoranuary26

UKD III

Deskriptif Kualitatif
Feb 29th, 2012 by aldoranuary26

DESKRIPTIF KUALITATIF

Metode penelitian kualitatif adalah metode untuk menyelidiki obyek yang tidak dapat diukur dengan angka-angka ataupun ukuran lain yang bersifat eksak. Penelitian kualitatif juga bisa diartikan sebagai riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Penelitian kualitatif jauh lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Teknik pengumpulan data kualitatif diantaranya adalah interview (wawancara), quesionere (pertanyaan-pertanyaan/kuesioner), schedules (daftar pertanyaan), dan observasi (pengamatan, participant observer technique), penyelidikan sejarah hidup (life historical investigation), dan analisis konten (content analysis). Metode kualitatif ada 4 macam :

a.       Metode Historis

Yaitu metode yang menggunakan analisa atau peristiwa-peristiwa dalam masa silam kemudian dijadikan sebagai prinsip-prinsip yang bersifat umum.

b.      Metode Komparatif/Metode Perbandingan

Yaitu metode yang mempergunakan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dalam persamaan-persamaan, kemudian untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk mengenai perikelakuan manusia dalam masyarakat.

c.       Metode Historis Komparatif

Yaitu metode yang dipergunakan untuk meneliti masyarakat pada masa silam dan masa sekarang.

d.      Metode Case Study / Studi Kasus

Yaitu metode yang dipergunakan dengan tujuan untuk mempelajari sedalam-dalamnya salah satu gejala yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Obyeknya adalah keadaan kelompok-kelompok dalam masyarakat, lembaga-lembaga masyarakat, maupun individu-individu dalam masyarakat. (Sri W. dan Sutapa Mulya, 2007)

Penelitian deskriptif kualitatif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial. Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang lengkap sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah. Metode penyelidikan deskriptif tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang. Metode ini menuturkan, menganalisa, dan mengklasifikasi ; menyelidiki dengan teknik survey, interview, angket, observasi, atau dengan teknik test ; studi kasus, studi komperatif, studi waktu dan gerak, analisa kuantitatif, studi kooperatif atau operasional. Bisa disimpulkan bahwa metode deskriptif ini ialah metode yang menuturkan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang dialami, satu hubungan, kegiatan, pandangan, sikap yang menampak, atau tentang satu proses yang sedang berlangsung, pengaruh yang sedang bekerja, kelainan yang sedang muncul, kecenderungan yang menampak, pertentangan yang meruncing, dan sebagainya.

Pelaksanaan metode-metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang arti data itu. Karena itulah maka dapat terjadi sebuah penyelidikan deskriptif, membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu lalu mengambil bentuk studi komperatif ; atau mengukur sesuatu dimensi seperti dalam berbagai bentuk studi kuantitatif, angket, test, interview, dan lain-lain. Ciri-ciri metode deskriptif itu sendiri adalah memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah-masalah yang aktual, kemudian data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, dan kemudian dianalisa (karena itu metode ini sering pula disebut metode analitik). Sifat-sifat lainnya adalah sama seperti pada setiap metode penyelidikan secara umum. Untuk memperoleh hasil sebesar-besarnya, seorang penyelidik umumnya mengusahakan agar :

1.      Menjelaskan setiap langkah penyelidikan deskriptif itu dengan teliti dan terperinci, baik mengenai dasar-dasar metodologi maupun mengenai detail teknik secara khusus.

2.      Menjelaskan prosedur pengumpulan data, serta pengawasan dan penilaian terhadap data itu.

3.      Memberi alasan yang kuat mengapa dalam metode deskriptif tersebut penyelidik mempergunakan teknik tertentu dan bukan teknik lainnya. (Winarno, 1994)

Pengertian penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti (Taylor dan Bogdan, 1984:5). Penelitian kualitatif yang berakar dari ‘paradigma interpretatif’ pada awalnya muncul dari ketidakpuasan atau reaksi terhadap ‘paradigma positivist’ yang menjadi akar penelitian kuantitatif. Dipandang dari sudut pendekatan dan proses penelitiannya, penelitian kualitatif memiliki karakteristik khusus sebagai berikut :

1.      Bersifat induktif

mendasar pada prosedur logika yang berawal dari proposisi khusus sebagai hasil pengamatan dan berakhir pada suatu kesimpulan (pengetahuan baru) hipotesis yang bersifat umum.

2.      Melihat pada setting dan manusia sebagai suatu kesatuan

mempelajari manusia dalam konteks dan situasi dimana mereka berada, manusia dan setting dilihat sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan.

3.      Memahami perilaku manusia dari sudut pandang mereka sendiri (sudut pandang yang diteliti)

Dilakukan dengan cara melakukan empati pada orang-orang yang diteliti dalam upaya memahami bagaimana mereka melihat berbagai hal dalam kehidupannya.

4.      Lebih mementingkan proses penelitian daripada hasil penelitian.

5.      Menekankan pada validitas data sehingga ditekankan pada dunia empiris.

6.      Bersifat humanistis

memahami secara pribadi orang yang diteliti dan ikut mengalami apa yang dialami orang yang diteliti dalam kehidupannya sehari-hari.

7.      Semua aspek kehidupan sosial dan manusia dianggap berharga dan penting untuk dipahami karena dianggap bersifat spesifik dan unik. (Bagong Suyanto dan Sutinah, 2006)

Pendekatan penelitian kualitatif sering disebut dengan naturalistic inquiry (inkuiri alamiah). Setiap data kualitatif mempunyai karakteristiknya sendiri. Data kualitatif berada secara tersirat di dalam sumber datanya. Sumber data kualitatif adalah catatan hasil observasi, transkrip interviu mendalam (depth interview), dan dokumen-dokumen terkait berupa tulisan ataupun gambar. Karakteristik Penelitian Kualitatif yaitu :

1.      Setting/latar alamiah atau wajar dengan konteks utuh (holistik).

2.      Instrumen penelitian berupa manusia (human instrument).

3.      Metode pengumpulan data observasi sebagai metode utama.

4.      Analisis data secara induktif.

5.      Proses lebih berperanan penting daripada hasil.

6.      Penelitian dibatasi oleh fokus.

7.      Desain penelitian bersifat sementara.

8.      Laporan bernada studi kasus.

9.      Interpretasi ideografik.

Penelitian deskriptif ditujukan untuk mengumpulkan informasi secara aktual dan terperinci ; mengidentifikasikan masalah ; membuat perbandingan atau evaluasi, dan ; menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.

DAFTAR  PUSTAKA

Bagong Suyanto dan Sutinah. 2006. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Kencana

Mg. Sri Wiyarti dan Sutapa Mulya. 2007. Sosiologi. Surakarta : UNS Press

Surakhmad, Winarno. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito

Paradigma Penelitian Kuantitatif
Feb 29th, 2012 by aldoranuary26

PARADIGMA METODE PENELITIAN KUANTITATIF

Pengertian Metode Penelitian Kuantitatif

Metode kuantitatif dan kualitatif berkembang terutama dari akar filosofis dan teori sosial abad ke-20. Kedua metode penelitian di atas mempunyai paradigma teoritik, gaya, dan asumsi paradigmatik penelitian yang berbeda. Masing-masing memuat kekuataan dan keterbatasan, mempunyai topik dan isu penelitian sendiri, serta menggunakan cara pandang berbeda untuk melihat realitas sosial.

Metode penelitian kuantitatif adalah metode yang digunakan untuk menyelidiki obyek (masyarakat) yang dapat diukur dengan angka-angka, sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diteliti/diukur dengan mempergunakan skala-skala, indeks-indeks, atau tabel-tabel, yang kesemuanya lebih banyak mempergunakan ilmu pasti (Mg. Sri Wiyarti dan Sutapa Mulya, 2007). Secara sederhana, yang disebut penelitian kuantitatif adalah penelitian yang :

1.      Melibatkan lima komponen informasi ilmiah, yaitu teori, hipotesis, observasi, generalisasi empiris, dan penerimaan atau penolakan hipotesis (Wallace, 1973).

2.      Mengandalkan adanya populasi dan teknik penarikan sampel.

3.      Menggunakan kuisioner untuk pengumpulan datanya.

4.      Mengemukakan variabel-variabel penelitian dalam analisis datanya.

5.      Berupaya menghasilkan kesimpulan secara umum, baik yang berlaku untuk populasi dan/atau sampel yang diteliti.

Dalam penelitian kuantitatif pun dikenal adanya dua hipotesis, yaitu hipotesis nol (nihil/statistik), yang biasanya disingkat dengan H0, dan hipotesis kerja atau hipotesis alternatif, disingkat dengan Ha atau H1. Hipotesis nol merupakan hipotesis yang sederhana perumusannya dan dapat diuji secara langsung. Apabila ada suatu pengujian hipotesis secara statistik ternyata H0 ditolak, maka Ha atau H1 tidak ditolak.

Secara garis besar pada penelitian kuantitatif ada tiga tipe analisis kuantitatif, yaitu :

1.      Analisis utama/primer atau analisis data primer (primary analysis)

¢  merupakan suatu analisis asli yang dilakukan oleh peneliti yang menghasilkan temuan tentang topik spesifik. Dengan demikian analisis data primer adalah suatu analisis yang mempertimbangkan informasi/data utama/primer (data dari tangan pertama) yang diperoleh dalam suatu penelitian.

2.      Analisis sekunder atau analisis data sekunder (secondary analysis)

¢  adalah suatu analisis tentang temuan-temuan yang ada dari peneliti lain, yang mungkin menggunakan metode yang berbeda dan lebih halus. Dengan demikian analisis ini memfokuskan pada data yang telah dikumpulkan/disusun dan dianalisis serta melakukan suatu analisis kedua atau ketiga kalinya.

3.      Meta-analysis

¢  adalah suatu analisis tentang data atau informasi yang telah dikumpulkan/disusun dan dianalisis dari beberapa studi.

Pada analisis data kuantitatif, maka pengolahan data merupakan kegiatan pendahuluan yang meliputi tahap editing dan coding (pembuatan kode), penyederhanaan data, dan mengode data.

a.       Pemeriksaan Data (Editing)

Pemeriksaan dan meneliti kembali data yang telah terkumpul adalah langkah pertama tahap pengolahan data. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah data yang telah terkumpul tersebut baik sehingga segera dapat dipersiapkan untuk tahap analisis berikutnya. Editing pada umumnya dilakukan terhadap jawaban yang telah ada dalam kuesioner, terutama kuesioner terstruktur. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tahap editing adalah lengkapnya pengisian jawaban, kejelasan tulisan, kejelasan makna jawaban, konsistensi/keajekan kesesuaian antar jawaban, relevansi jawaban, dan keseragaman kesatuan data.

b.      Pembuatan Kode

Setelah tahap pemeriksaan data (editing) selesai dikerjakan dan jawaban responden dalam kuesioner dipandang cukup memadai, maka langkah berikutnya adalah pembuatan kode (coding). Coding dilakukan sebagai usaha untuk menyederhanakan data, yaitu dengan memberi simbol angka pada tiap-tiap jawaban, atau suatu cara mengklasifikasi jawaban responden atas suatu pertanyaan menurut macamnya dengan jalan menandai masing-masing jawaban dengan kode tertentu. Menurut Sarantakos (2002), coding adalah suatu proses dimana pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban diubah menjadi angka. Hal ini memudahkan reduksi data, analisis, penyimpanan, dan penyebaran data.

c.       Penyederhanaan Data

Data yang telah terkumpul terutama dari pertanyaan terbuka dan semiterbuka, selalu menunjukkan jawaban yang sangat bervariasi. Agar data tersebut mudah dianalisis serta disimpulkan untuk menjawab masalah yang dikemukakan dalam penelitian, maka jawaban yang beranekaragam tersebut harus diringkas. Peringkasan itu dilakukan dengan menggolongkan jawaban yang beranekaragam itu ke dalam kategori yang jumlahnya terbatas.

d.      Mengode Data

Setelah semua data terkumpul dan telah dilakukan pemeriksaan (diedit), maka langkah berikutnya adalah mengode data berdasarkan buku kode yang telah disusun. Pada saat mengode data ini alat yang diperlukan adalah lembaran kode (code sheet) untuk pengolahan dengan komputer atau kartu tabulasi bila dilakukan secara manual. (Bagong Suyanto dan Sutinah, 2006)

Paradigma Penelitian Kuantitatif

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962), dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik. Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs, sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.

Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang menggunakan pendekatan deduktif yang bertujuan untuk menguji hipotesis merupakan penelitian yang menggunakan paradigma kuantitatif. Paradigma ini disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), positivis (positivist), eksperimental (experimental), atau empiris (empiricist).

Metode kuantitatif berakar pada paradigma tradisional, positivistik, eksperimental atau empiricist. Metode ini berkembang dari tradisi pemikiran empiris Comte, Mill, Durkeim, Newton dan John Locke. “Gaya” penelitian kuantitatif biasanya mengukur fakta objektif melalui konsep yang diturunkan pada variabel-variabel dan dijabarkan pada indikator-indikator dengan memperhatikan aspek reliabilitas. Penelitian kuantitatif bersifat bebas nilai dan konteks, mempunyai banyak “kasus” dan subjek yang diteliti, sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk data statistik yang berarti. Hal penting untuk dicatat di sini adalah, peneliti “terpisah” dari subjek yang ditelitinya.

Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Penelitian kuantitatif dan kualitatif memiliki perbedaan paradigma yang amat mendasar. Penelitian kuantitatif dibangun berlandaskan paradigma positivisme dari August Comte (1798-1857), sedangkan penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1926). Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason). Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi.

Secara epistemologi, paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional data empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Koheren berarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, serta korespondensi berarti sesuai dengan kenyataan empiris. Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dari proses perumusan hipotesis yang deduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Secara garis besar, paradigma penelitian kuantitatif mencakup :

1.      Paradigma tradisional, positivis, eksperimental, empiris.

2.      Menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

3.      Realitas bersifat obyektif dan berdimensi tunggal.

4.      Peneliti independen terhadap fakta yang diteliti / berorientasi kepada hasil.

5.      Bebas nilai dan tidak bias.

6.      Pendekatan deduktif.

7.      Pengujian teori dan analisis kuantitatif (menggunakan pandangan ilmu pengetahuan alam).

DAFTAR  PUSTAKA

Bagong Suyanto dan Sutinah. 2006. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Kencana

Mg. Sri Wiyarti dan Sutapa Mulya. 2007. Sosiologi. Surakarta : UNS Press

Somantri, Gumilar R. 2005. Memahami Metode Kualitatif. Jurnal Makara, Sosial

Humaniora, vol. 9

Pembangunan Indonesia
Jan 2nd, 2012 by aldoranuary26

KEBIJAKAN DAN PEMBANGUNAN

PEMERINTAHAN

A. Masa Pemerintahan B.J. Habibie

Pemerintahan B..J. Habibie dimulai sejak lengsernya Soeharto dari kedudukannya sebagai presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998. Masa pemerintahan Habibie ini hanya berlangsung selama satu tahun, karena naiknya Habibie menggantikan Soeharto ini diterima dengan hati kecewa dan cemas di kalangan yang amat luas di kalangan masyarakat. Kabinet yang dibentuk oleh Habibie diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan. Ada berbagai langkah-langkah kebijakan yang dilaksanakan pada masa pemerintahan B.J. Habibie, diantaranya adalah :

a.       Pembebasan Tahanan Politik

Secara umum tindakan pembebasan tahanan politik meningkatkan legitimasi Habibie baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini terlihat dengan diberikannya amnesti dan abolisi yang merupakan langkah                                                                                                                                                                                                     penting menuju keterbukaan dan rekonsiliasi. Contohnya : pembebasan tahanan politik kaum separatis tokoh PKI, Amnesti diberikan kepada Mohammad Sanusi dan orang-orang lain yang ditahan setelah Insiden Tanjung Priok, selain itu Habibie mencabut Undang-Undang Subversi dan menyatakan mendukung budaya oposisi serta melakukan pendekatan kepada mereka yang selama ini menentang Orde Baru.

b.      Kebebasan Pers

Dalam hal ini, pemerintah memberikan kebebasan bagi pers di dalam pemberitaannya, banyak bermunculan media massa, kebebasan berasosiasi organisasi pers sehingga organisasi alternatif seperti AJI (Asosiasi Jurnalis Independen) dapat melakukan kegiatannya, tidak ada pembredelan-pembredelan terhadap media tidak seperti pada masa Orde Baru, kebebasan dalam penyampaian berita, dimana hal seperti ini tidak pernah dijumpai sebelumnya pada saat kekuasaan Orde Baru. Cara Habibie memberikan kebebasan pada Pers adalah dengan mencabut SIUPP.

c.       Pembentukan Parpol dan Percepatan pemilu dari tahun 2003 ke tahun 1999

Presiden RI ketiga ini melakukan perubahan dibidang politik lainnya diantaranya mengeluarkan UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik, UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu, UU No. 4 Tahun 1999 tentang MPR dan DPR. Menjelang Pemilu 1999, Partai Politik yang terdaftar mencapai 141 dan setelah diverifikasi oleh Tim 11 Komisi Pemilihan Umum menjadi sebanyak 98 partai, namun yang memenuhi syarat mengikuti Pemilu hanya 48 Parpol saja. Selanjutnya tanggal 7 Juni 1999, diselenggarakan Pemilihan Umum Multipartai.

d.      Penyelesaian Masalah Timor Timur

Sejak terjadinya insident Santa Cruz, dunia Internasional memberikan tekanan kepada Indonesia dalam masalah hak asasi manusia di Tim-Tim. Habibie mengambil sikap pro aktif dengan menawarkan dua pilihan bagi penyelesaian Timor-Timur yaitu di satu pihak memberikan setatus khusus dengan otonomi luas dan dilain pihak memisahkan diri dari RIS sebulan menjabat sebagai Presiden habibie telah membebaskan tahanan politik Timor-Timur, seperti Xanana Gusmao dan Ramos Horta. Sementara itu di Dili pada tanggal 21 April 1999, kelompok pro kemerdekaan dan pro intergrasi menandatangani kesepakatan damai yang disaksikan oleh Panglima TNI Wiranto, Wakil Ketua Komnas HAM  Djoko Soegianto dan Uskup Baucau Mgr. Basilio do Nascimento. Tanggal 5 Mei 1999 di New York Menlu Ali Alatas dan Menlu Portugal Jaime Gama disaksikan oleh Sekjen PBB Kofi Annan menandatangani kesepakan melaksanakan penentuan pendapat di Timor-Timur untuk mengetahui sikap rakyat Timor-Timur dalam memilih kedua opsi di atas. Tanggal 30 Agustus 1999 pelaksanaan penentuan pendapat di Timor-Timur berlangsung aman. Namun keesokan harinya suasana tidak menentu, kerusuhan dimana-mana. Suasana semakin bertambah buruk setelah hasil penentuan pendapat diumumkan pada tanggal 4 September 1999 yang menyebutkan bahwa sekitar 78,5 % rakyat Timor-Timur memilih merdeka. Pada awalnya Presiden Habibie berkeyakinan bahwa rakyat Timor-Timur lebih memilih opsi pertama, namun kenyataannya keyakinan itu salah, dimana sejarah mencatat bahwa sebagian besar rakyat Timor-Timur memilih lepas dari NKRI.

d. Pengusutan Kekayaan Soeharto dan Kroni-kroninya

Presiden Habibie – dengan Instruksi Presiden No. 30 / 1998 tanggal 2 Desember 1998 – telah mengintruksikan Jaksa Agung Baru, Andi Ghalib segera mengambil tindakan hukum memeriksa Mantan Presiden Soeharto yang diduga telah melakukan praktik KKN,namun pemerintah dinilai gagal dalam melaksanakan agenda Reformasi untuk memeriksa harta Soeharto dan mengadilinya. Hal ini berdampak pada aksi demontrasi saat Sidang Istimewa MPR tanggal 10-13 Nopember 1998, dan aksi ini mengakibatkan bentrokan antara mahasiswa dengan aparat. Karena banyaknya korban akibat bentrokan di kawasan Semanggi maka bentrokan ini diberi nama ”Semanggi Berdarah” atau ”Tragedi Semanggi

e.       Pemberian Gelar Pahlawan Reformasi bagi Korban Trisakti

Pemberian gelar Pahlawan Reformasi pada para mahasiswa korban Trisakti yang menuntut lengsernya Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998 merupakan hal positif yang dianugrahkan oleh pemerintahan Habibie, dimana penghargaan ini mampu melegitimasi Habibie sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangan dan pengorbanan mahasiswa sebagai pelopor gerakan Reformasi.

Pada Bidang Ekonomi

Di dalam pemulihan ekonomi, secara signifikan pemerintah berhasil menekan laju inflasi dan gejolak moneter dibanding saat awal terjadinya krisis. Pada tanggal 21 Agustus 1998 pemerintah membekukan operasional Bank Umum Nasional, Bank Modern, dan Bank Dagang Nasional Indonesia. Kemudian di awal tahun selanjutnya kembali pemerintah melikuidasi 38 bank swasta, 7 bank diambil-alih pemerintah dan 9 bank mengikuti program rekapitulasi.

Untuk masalah distribusi sembako utamanya minyak goreng dan beras, dianggap kebijakan yang gagal. Hal ini nampak dari tetap meningkatnya harga beras walaupun telah dilakukan operasi pasar, ditemui juga penyelundupan beras keluar negeri dan penimbunan beras.

Pada Bidang Manajemen Internal ABRI

Pada masa transisi di bawah Presiden B.J. Habibie, banyak perubahan-perubahan penting terjadi dalam tubuh ABRI, terutama dalam tataran konsep dan organisatornya. ABRI telah melakukan kebijakan-kebijakan sebagai langkah perubahan politik internal, yang berlaku tanggal 1 April 1999. Kebijakan tersebut antara lain: pemisahan POLRI dari ABRI, Perubahan Stat Sosial Politik menjadi Staf Teritorial, Likuidasi Staf Karyawan, Pengurangan Fraksi ABRI di DPR, DPRD I/II, pemutusan hubungan organisatoris dengan partai Golkar dan mengambil jarak yang sama dengan parpol yang ada, kometmen dan netralitas ABRI dalam Pemilu dan perubahan Staf Sospol menjadi komsos serta pembubaran Bakorstanas dan Bakorstanasda.

Perubahan di atas dipandang positif oleh berbagai kalangan sebagai upaya reaktif ABRI terhadap tuntutan dan gugatan dari masyarakat, khususnya tentang persoalan eksis peran Sospol ABRI yang diimplementasikan dari doktrin Dwi Fungsi ABRI.

Keadaan Sosial Di Masa Habibie

Kerusuhan antar kelompok yang sudah bermunculan sejak tahun 90-an semakin meluas dan brutal, konflik antar kelompok sering terkait dengan agama seperti di Purworejo juni 1998 kaum muslim menyerang lima gereja, di Jember adanya perusakan terhadap toko-toko milik cina, di Cilacap muncul kerusuhan anti cina, adanya teror ninja bertopeng melanda Jawa Timur dari malang sampai Banyuangi. Isu santet menghantui masyarakat kemudian di daerah-daerah yang ingin melepaskan diri seperti Aceh, begitu juga dengan Papua semakin keras keinginan membebaskan diri. Juli 1998 OPM mengibarkan bendera bintang kejora sehingga mendapatkan perlawanan fisik dari TNI.

Berakhirnya Masa Pemerintahan B.J. Habibie

Pada tanggal 14 Oktober 1999 Presiden Habibie menyampaikan pidato pertanggungjawabannya di depan Sidang Umum MPR namun terjadi penolakan terhadap pertanggungjawaban presiden karena Pemerintahan Habibie dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rezim Orba. Kemudian pada tanggal 20 Oktober 1999, Ketua MPR Amien Rais menutup Rapat Paripurna sambil mengatakan, ”dengan demikian pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie ditolak”. Pada hari yang sama Presiden habibie mengatakan bahwa dirinya mengundurkan diri dari pencalonan presiden.

B. Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid

Terpilihnya Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI dipicu juga dari penolakan MPR atas laporan B.J. Habibie, Pada 20 Oktober 1999, MPR berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara. Gusdur melakukan banyak trobosan untuk mengangkat kaum minoritas. Misalnya: memperbolehkan perayaan imlek yang pada masa Soeharto dilarang, meminta agar TAP MPR tentang pelanggaran maxsisme-leninisme, di cabut. Hal ini cukup kontroversial, sebab pada masa Soeharto, PKI (yang terkait dengan maxsisme-leninisme) sudah dihitamkan. Dengan membuka  keadilan pada kaum minoritas, gusdur menunjukan adanya persamaan derajat antarawarga. Pada masa jabatan yang sangat singkat, gusdur sering sekali melakukan kunjungan keluar negeri dengan tujuan untuk memperbaiki citra Indonesia dimata dunia sekaligus membuka peluang untuk melakukan kerjasama dengan Negara-negara yang beliau kunjungi.

Gusdur juga melakukan perdamaian dengan Israel. gusdur adalah orang menjunjung tinggi kebebasan umat beragama, menekankan bahwa Islam tidak boleh memandang segala sesuatu yang berbau Barat adalah kesalahan.  Bekerja sama dengan Israel bukan berarti  membenci atau melucuti dukungan Palestina.

C. Masa Pemerintahan Megawati

Megawati Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 200120 Oktober 2004. Ia merupakan presiden wanita Indonesia pertama dan merupakan anak dari presiden Indonesia pertama. Megawati juga merupakan ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sejak memisahkan diri dari Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1999. Pemilu 1999.

Ia menjadi presiden setelah MPR mengadakan Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001. Sidang Istimewa MPR diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membekukan lembaga MPR/DPR dan Partai Golkar. Megawati dilantik pada 23 Juli 2001, sebelumnya dari tahun 1999-2001, ia menjabat Wakil Presiden di bawah Gus Dur. Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, diakannya pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia.

Beberapa Prestasi Megawati selama 3 tahun memeritah

1.    Menstabilkan fundamen ekonomi makro meliputi inflasi, BI rate, pertumbuhan ekonomi, kurs rupiah terhadap dolar, angka kemiskinan.

2.    Melakukan stabilisasi kondisi polhukkam dalam negeri peninggalan pemerintahan sebelumnya (1998-2001) yang penuh dgn “kegaduhan” sehingga Indonesia bisa kembali membangun.

3.    Memberikan kondisi yang kondusif bagi legislative untuk melakukan fungsi legislasinya sehingga banyak UU yang telah disahkan pada masa kepemimpinan mega dibandingkan masa pemerintah lain (HBB, GD, Sby).

4.     Melakukan pembangunan infrastruktur yang vital diantaranya meliputi Tol Cipularang (Cikampek-bandung), Tol Cikunir, Jembatan Suramadu Jatim, Rel ganda Serpong – Jkt, Rel ganda Jakarta – Bandung & bnyk pembangunan infrastruktur lainnya.

5.    Mulai melakukan pemberantasan KKN diantaranya dengan keberanian me -nusakambang- kan dan memenjarakan kroni Soeharto (Tommy Soehato, Bob Hasan dan Probosutedjo) dan menangkap konglomerat bermasalah Nurdin Halid. KPK didirikan pada masa pemerintahan megawati.

6.    Berhasil menyehatkan perbankan nasional yang collapse setelah krisis ekonomi 1998 terbukti dengan dibubarkan BPPN pada Februari 2004 yang telah selesai melaksanakan tugasnya. Hasilnya bisa dirasakan saat ini perbankan nasional menjadi relative sehat.

7.    Indonesia berhasil keluar dari IMF pada tahun 2003 yang menandakan Indonesia sudah keluar dari krisis ekonomi yg terjadi sejak tahun 1998 dan Indonesia yang lebih mandiri.

8.    Melakukan pemerataan pembangunan dengan membentuk provinsi baru berdasarkan kebutuhan yaitu Kepulauan Riau dan Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Papua Barat.

9.    Politik luar negeri yang lebih bebas dan aktif diantaranya dengan mengutuk agresi militer yg dilakukan AS ke Iraq dan menolak permintaan AS untuk menyerahkan Abu Bakar Baasyir ke AS.

10.    Berhasil membeli pesawat tempur Sukhoi dan heli Mi-35 dari Rusia tanpa perlu gembar gembor dan memberatkan APBN. Ini juga menjaga citra kemandirian Indonesia dari kooptasi Negara adi daya Amerika Serikat.

11.    Berhasil menghasilkan 45 milyar dolar AS dari penjualan LNG Tangguh ke China, Korea dan Meksiko selama 20 tahun ke depan. Harga kontrak dapat dievaluasi setiap 4 tahun.

12.    Berhasil mengungkapkan para pelaku terorisme diantaranya Bom Bali I dan II yang telah menewaskan ratusan orang yaitu dengan menangkap Amrozi, Imam samudra, Mukhlas dan Al faruq dan kasus pengeboman lain yaitu Bom JW marriot, Kedubes Australia dan Bom BEJ dan Medan

13.    Melakukan operasi kesejahteraan dan militer di Aceh yaitu dengan mengembalikan proporsi pendapatan dari Lapangan Arun sebagian besar kepada rakyat Aceh dgn status daerah Otonomi Khusus dan menangkap anggota GAM bersenjata sehingga jumlahnya hanya tinggal ratusan dan lari ke hutan. Indonesia juga berhasil menangkap dan mengadili ratusan anggota GAM dan para petinggi GAM di Indonesia yaitu Muzakir manaf, Irwandy Yusup dll dan memenjarakannya.

Selain prestasi-prestasi yang diraih, ada kegagalan dalam pemerintahan megawati, seperti :

Megawati dianggap gagal melaksanakan agenda reformasi dan tidak mampu mengatasi krisis bangsa. Menurut beberapa pengamat politik dan pemerintahan, kebijakan pemerintah Megawati sepanjang tahun 2002  cenderung mengabaikan aspirasi rakyat dan hanya berorientasi pada kepentingan kalangan tertentu serta tidak mampu melepaskan Indonesia dari tekanan pihak-pihak asing, kegagalan diplomasi Indonesia sehingga kepulauan Sipadan-Ligitan lepas dari Indonesia, serta kasus penjualan saham Indosat, gejala munculnya pola lama dalam pemerintahan Megawati yaitu pendekatan represif dalam menyelesaikan masalah dan sakralisasi lembaga kepresidenan, kegagalan partai politik yang terlibat dalam pemerintahan gotong royong dalam mengartikulasi kepentingan rakyat, tak ada upaya pemberantasan KKN, sebaliknya praktik korupsi makin terang-terangan dan meluas, kebijakan pemerintah yang memberi pengampunan terhadap sejumlah koruptor jelas mengingkari nilai keadilan

Kegagalan Pemerintahan Megawati dalam menjalankan Reformasi Birokrasi ini mengakibatkan kepercayaan rakyat terhadap Presiden Megawati menjadi menurun akibatnya dalam pemilihan Presiden secara langsung Rakyat menaruh harap perubahan pada pasangan SBY – JK.

D. Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono

Kepemimpinan Pak SBY periode 2004-2009 dan 2009-2014 sudah barang tentu sangat berbeda. Periode 2004-2009 pemerintahan SBY-Kalla telah menetapkan sasaran pokok pembangunan lima tahun 2004-2009 sebagai berikut; menurunkan tingkat pengangguran terbuka dari 9,7 persen dari angkatan kerja (9,9 juta jiwa) di tahun 2004 menjadi 5,1 persen (5,7 jutajiwa) pada tahun 2009, mengurangi tingkat kemiskinan dari 16,6 persen dari total penduduk (36,1 juta jiwa) menjadi 8,2 persen (18,8 juta jiwa) di tahun 2009, dan untuk menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan tersebut ditargetkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,6 persen per tahun selama periode 2004-2009.

Pada masa pemerintahan SBY – Boediono (2009-2014), memiliki karakteristik pemerintahan yang berbeda dari masa pemrintahan sebelumnya, Periode 2009-2014, Pak SBY banyak melakukan perubahan kebijakan khususnya di bidang perekonomian antara lain adalah mengganti pola kebijakan perekonomian yang selama ini mengarah ke Amerika Serikat (arah ini sudah di anut sejak era Orba –sebut saja America’s Way), ke arah China (China’s Way). Satu hal yang paling menonjol dalam “China’s Way” adalah agresifitas yang dimulai dalam membangun infrastruktur dan serta langkah nyata dan konsisten tanpa pandang bulu dalam mencegah dan membasmi korupsi. SBY melakukan pembangunan berkelanjutan selama masanya menjabat sebagai presiden 2 kali berturut-turut. Salah satu contoh pembangunan berkelanjutan tersebut adalah kebijakan subsidi BBM, pembentukan perumahan murah bagi rakyat yang akan menampung rakyat miskin yang hidup di kolom jembatan, juga golongan rakyat lain yang belum punya rumah layak, Kebijakan moratorium pengangkatan pegawai negeri sipil (PNS) daerah yang dijalankan  dimaksudkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan anggaran, di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2005 – 2025 dalam konteks jangka panjang, pembangunaan perdesaan didorong keterkaitannya dengan pembangunan perkotaan secara sinergis dalam suatu wilayah pengembangan ekonomi. Dari sisi program nasional, Presiden SBY mendorong pengembangan agroindustri padat pekerja di sektor pertanian dan kelautan, sebagaimana kebijakan dana Rp 100 juta per desa untuk program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), program pertanian kawasan transmigrasi, maupun program pengembangan masyarakat pesisir dan kepulauan, serta reformasi agraria untuk meningkatkan akses lahan bagi petani desa. SBY juga telah mendorong pengembangan jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi di kawasan perdesaan dan kota-kota kecil terdekat. Pengembangan itu didanai oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan maupun berbagai kegiatan sektoral dari Kementerian daerah, serta peningkatan kesehatan masyarakat.

Meskipun bedasarkan hasil survey LSI tahun 2010 masyarakat mengaku puas, namun ada banyak hal pula yang ternyata menjadi keburukan pemerintahan SBY, antara lain adalah banyaknya kasus bersar yang belum tuntas ditangani pemerintah, seperti kasus Bank Century, kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, kasus dugaan suap atas Nazaruddin, SBY dianggap tidak memiliki operator politik untuk membantunya menuntaskan masalah, Buruknya kinerja pemerintahan SBY tidak lepas dari sikap Presiden SBY dalam menjalankan pemerintahan. SBY dianggap lebih suka terlihat cantik, santun dan berambut rapi di depan kamera dibanding bekerja keras mengatasi persoalan-persoalan yang ada di Indonesia.

Analisa perkembangan dan kebijakan pemerintahan Indonesia Pasca Orde Baru sampai masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Secara umum perkembangan Indonesia melalui perkembangan dan kebijakan-kebijakan yang tercipta memiliki sistem pembangunan yang tidak spesifik pada satu bentuk, karena perlu penyesuaian dengan perkembangan keadaan Indonesia. Teori yang menurut kelompok kami teori yang kami gunakan untuk menganalisa proses pembangunan Indonesia adalah teori dependensi klasik yang melihat pembangunan suatu negara masih diwarnai dengan ketergantungan terhadap negara asing yang menanamkan modal ke Indonesia sebagai salah satu cara Indonesia untuk merintis pembangunan di berbagai sektor, selain itu teori depedensi klasik melihat permasalahan pembangunan itu dari segi ekonomi dimana dari pengamatan proses pembangunan Indonesia selama ini aspek ekonomi menjadi masalah yang sangat riskan bagi negara Indonesia, karena posisi Indonesia sebagai bagian dari negara ketiga yang berada di bawah hegemoni negara maju menyebabkan surplus ekonomi negara Indonesia mengalir ke negara maju. Sehingga keadaan ketergantungan Indonesai terhadap negara-negara maju menjadi bagian yang tidak terpisahkan, padahal ketergantungan merupakan hal yang bertolak belakang dengan pembangunan, karena esensi dari pembangunan merupakan upaya mengelola sumber yang ada untuk pemenuhan kebutuhan secara mandiri. Contohnya : bentuk ketergantungan Indonesia adalah banyaknya ekspor yang dilakukan ke negara luar dengan harga yang rendah, namun di sisi lain negara Indonesia juga mengimpor barang-barang dari luar negri, ekspor terbesar dari Indonesia adalah tenaga kerja sebagai penyumbang devisa terbesar namun sayangnya tenaga kerja yang diekspor bukan tenaga kerja yang berkompeten (dokter, guru, teknisi, dll) tapi hanya menjadi buruh. Sehingga Indonesia sampai saat ini masih belum secara tegas menghilangkan ketergantungan dengan negara luar untuk menciptakan iklim yang berdikari.

DAFTAR PUSTAKA

Lesmana M.A., Prof. Dr. Tjipta . 2009 . DARI SOEKARNO SAMPAI SBY : Intrik & lobi Politik Para Penguasa . Jakarta : Gramedia

Kencana Syafiie, Inu, Azhari. 2005. Sistem Politik Indonesia. Bandung: PT. Refika Aditama

www. History Indonesia.com

http://nusantaranews.wordpress.com/

www.Wikipedia.com

http://ananda-jagadhita.blogspot.com/2011/05/masa-pemerintahan-habibie.html

http://rimanews.com/read/20110405/22…ng-tidak-jelas

Korelasi Spearman (referensi)
Dec 12th, 2011 by aldoranuary26

Referensi yang Menjelaskan Tentang Korelasi Spearman

Djarwanto Ps. SE. Mengenal Beberapa Uji Statistik Dalam Penelitian. 2001. Liberti Yogyakarta : Yogyakarta.

Menurut buku ini, yang dimaksud dengan korelasi rank (jenjang) Spearman adalah sebuah metode yang diperlukan untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variabel dimana dua variabel itu tidak mempunyai joint normal distribution dan conditional variance-nya tidak diketahui sama. Korelasi rank dipergunakan apabila pengukuran kuantitatif secara eksak tidak mungkin atau sulit dilakukan. Dalam mengukur koefisien korelasinya, disyaratkan bahwa pengukuran kedua variabelnya sekurang-kurangnya dalam skala ordinal sehingga individu-individu yang diamati dapat diberi jenjang dalam dua rangkaian berurutan. Dalam analisis ini, hipotesis nihil yang akan diuji mengatakan bahwa dua variabel yang diteliti dengan nilai jenjangnya itu independen ; artinya bahwa tidak ada hubungan antara jenjang variabel yang satu dengan jenjang dari variabel lainnya. Pengujian dapat didasarkan pada sampel kecil ataupun sampel besar (apabila n ≥ 10).

Usman, Husaini dan Setiady Akbar, R. Purnomo. Pengantar Statistika. 2003. Bumi Aksara : Jakarta.

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa korelasi rank ditemukan oleh Spearman, sehingga disebut juga sebagai korelasi Spearman. Korelasi ini dapat juga disebut sebagai korelasi bertingkat, korelasi berjenjang, korelasi berurutan, atau korelasi berpangkat. Korelasi rank dipakai apabila :

  1. Kedua variabel yang akan dikorelasikan itu mempunyai tingkatan data ordinal
  2. Jumlah anggota sampel dibawah 30 (sampel kecil)
  3. Data tersebut memang diubah dari interval ke ordinal
  4. Data interval tersebut ternyata tidak berdistribusi normal

Besarnya hubungan antara dua variabel atau derajat hubungan yang mengukur korelasi berpangkat disebut koefisien korelasi berpangkat atau koefisien korelasi Spearman yang dinyatakan dengan lambang rs. Korelasi rank berguna untuk mendapatkan :

  1. Kuatnya hubungan dua buah data ordinal
  2. Derajat kesesuaian dari dua penilai terhadap kelompok yang sama
  3. Validitas konkuren alat pengumpul data
  4. Reliabilitas alat pengumpul data setelah dikembangkan bersama-sama dengan William Brown, sehingga disebut dengan Korelasi Spearman-Brown dengan lambang rii.

Dr. Ir. Harinaldi, M.Eng. Prinsip-prinsip Statistik Untuk Teknik Dan Sains. 2005. Erlangga : Jakarta.

Koefisien korelasi peringkat Spearman (rs) adalah suatu ukuran dari kedekatan hubungan antara dua variabel ordinal. Dengan demikian koefisien korelasi peringkat Spearman berfungsi mirip dengan koefisien korelasi linier (r), hanya saja yang digunakan adalah nilai-nilai peringkat dari variabel x dan y, bukan nilai sebenarnya. Perhitungan koefisien korelasi peringkat Spearman dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Penyusunan peringkat dari data
  2. Penentuan perbedaan peringkat dari pasangan data
  3. Perhitungan koefisien korelasi peringkat

Untuk menginterpretasikan nilai koefisien korelasi Spearman, sama halnya seperti koefisien korelasi linear, perlu diingat bahwa nilai korelasi nol (rs = 0) menunjukkan tidak adanya korelasi. Sedangkan nilai korelasi +1,0 dan -1,0 menunjukkan korelasi yang sempurna.

Berikut dilampirkan tabel harga-harga kritis rs Koefisien Korelasi Ranking Spearman :

Contoh Data Buatan Korelasi Rank Spearman :

Seorang guru di Sekolah Taman Kanak-kanak memberikan rating pada kegemaran menggambar dan tingkat kreatifitas anak-anak di sekolah tersebut dengan menggunakan skala 0-100. Dari sampel beberapa anak di kelas Matahari, skor mereka adalah :

Prosedur pengujiannya adalah :

1.    Formulasi Ho dan H1 :

Ho : ρ  =  0  (tidak ada hubungan antara kegemaran menggambar dengan tingkat kreatifitas anak-anak)

H1 : ρ  >  0  (ada hubungan antara kegemaran menggambar dengan tingkat kreatifitas anak-anak)

2.    Digunakan uji signifikansi koefisien korelasi rank Spearman.

3.    Digunakan taraf signifikansi 0,01 dengan besar sampel, n = 8. Lihat tabel harga-harga kritis rs Koefisien Korelasi Ranking Spearman. Harga kritis rs untuk n = 8 dan alpha 0,01 adalah 0,833.

4.    Kriteria pengujian :

Ho ditolak apabila nilai rho observasi >  0,833 dan Ho diterima apabila nilai rho observasi < 0,833.

5.    Nilai rho observasi (harga uji statistik rs) :

6  b2

rs =  1  –

n (n2 – 1)

6 (4,5)                              27

=   1  –                              =   1  –                     =   1  –  0,05  =  0,95

8 (82 – 1)                           504

6.    Keputusan pengujian

Oleh karena nilai rho observasi (0,95) lebih besar dari harga/nilai kritis rs (0,833) maka diputuskan Ho ditolak (berarti H1 diterima) pada taraf signifikansi 0,01. Dapat disimpulkan bahwa terdapat derajat hubungan yang tinggi antara tingkat yang diberikan pada kegemaran menggambar anak-anak dan tingkat pada kreatifitas mereka

DAFTAR  PUSTAKA

Djarwanto Ps. SE. Mengenal Beberapa Uji Statistik Dalam Penelitian. 2001. Liberti Yogyakarta : Yogyakarta

Usman, Husaini dan Setiady Akbar, R. Purnomo. Pengantar Statistika. 2003. Bumi Aksara : Jakarta

Dr. Ir. Harinaldi, M.Eng. Prinsip-prinsip Statistik Untuk Teknik Dan Sains. 2005. Erlangga : Jakarta

Analisis Bivariate
Dec 12th, 2011 by aldoranuary26

ANALISIS BIVARIATE

Analisis Bivariat adalah analisis secara simultan dari dua variabel. Hal ini biasanya dilakukan untuk melihat apakah satu variabel, seperti jenis kelamin, adalah terkait dengan variabel lain, mungkin sikap terhadap pria maupun wanita kesetaraan. Analisis bivariate terdiri atas metode-metode statistik inferensial yangdigunakan untuk menganalisis data dua variabel penelitian. Penelitian terhadap dua variabel biasanya mempunyai tujuan untuk mendiskripsikan distribusi data, meguji perbedaan dan mengukur hubungan antara dua variabel yang diteliti.

Analisis Bivariat yaitu hipotesis yang diuji biasanya kelompok yang berbeda dalam ciri khas tertentu dengan koefisien kontigensi yang diberi simbol C. Analisis bivariat menggunakan tabel silang untuk menyoroti dan menganalisis perbedaan atau hubungan antara dua variabel. Menguji ada tidaknya perbedaan/hubungan antara variabel kondisi pemukian, umur, agama, status migrasi, pendidikan, penghasilan, umur pekkawinan pertama, status kerja dan kematian bayi/balita dengan persepsi nilai anak digunakan analisis chi square, denagn tingkat kemaknaan a=0,05. Hasil yang diperoleh pada analisis chi square, dengan menggunakan program SPSS yaitu nilai p, kemudian dibandingkan dengan a=0,05. Apabila nilai p< dari a=0,05 maka ada hubungan atau perbedaan antara dua variabel tersebut. (Agung, 1993)

Kegunaan Dari Analisis Bivariat

Untuk mengukur kekuatan hubungan antar dua variabel atau lebih.
Contoh mengukur hubungan antar dua variabel :

  1. Motivasi kerja dengan produktivitas
  2. Kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan

Langkah-Langkah Melaksanakan Analisis Bivariat

  1. Masukkan data diatas kedalam program SPSS dengan nama variabel bulan, b_selling, b_promo, b_iklan, dan unitpjl.
  2. Klik menu utama analize , correlate, bivariate, tampak dilayar
  3. Kemudian klik semua variabel yang akan dikorelasikan dan masukkan kekolom variables dengan mengklik tanda panah
  4. Untuk kolom corelatiaon koeffisients, pilihlah pearson karena anda ingin melakukan uji atas data rasio
  5. Untuk kolom test of significance, pilih option two-tailed untuk uji dua arah atau dua sisi
  6. Untuk pilihan flag signifikant korelations boleh dicentang (dipilih) hingga pada output akan muncul tanda * untuk signifikansi 5% dan tanda ** untuk signifikansi 1%
  7. Kemudian klik tombol option hingga dilayar tampil :

Pengisian :

  • Anda dapat memunculkan output nilai means and standard deviations dengan mengklik pilihan yang sesuai pada kolom dtatistik
  • Pada pilihan missing values pada dua pilihan :
  1. Exclude cases pairwise : Pasangan yang salah satu tidak ada datanya tidak dimasukkan dalam perhitungan. Akibatnya, jumlah data tiap pasangan korelasi akan bervariasi.
  2. Exclude cases listwise : Yang dibuang adalah kasus yang salah satu variabelnya memiliki mising data. Jumlah untuk semua variabel korelasi adalah sama.
  • Untuk keseragaman pilih exclude cases pairwise
  • Tekan qontinyue jika sudah selesai
  • Kemudian tekan ok dan akan muncul output

Jenis-Jenis Uji Analisis Bivariat

  1. Uji korelasi Bivariat ( Product-moment person )
  2. Uji chis-quare, dengan tingkat kemaknaan a=0,05. Hasil yang diperoleh pada analisis chis quare dengan menggunakan program SPSS yaitu nilai p, kemudian dibandingkan dengan a=0,05 apabila nilai p < dari a=0,05 maka ada hubungan atau pernedaan antara dua variabel tersebut (Agung 1993).
  • Untuk menentukan korelasi ( kuatnya hubungan ) antara variabel-variabel penelitian
  • Jika ada hubungan, seberapa kuat hubungan antar variabel tersebut
  • Dapat digunakan untuk jenis data rasio ( scale ) atau interval

Dalam analisis bivariate secara umum terdiri dari analisa korelasi dan analisa regresi.

Teknik analisis statistik yang dibahas dalam bab ini bersumber pada SPSS yang difokuskan hanya pada teknik yang dapat menjelaskan hubungan atau kaitan antara beberapa variabel, baik hubungan antara dua variabel (bivariate) maupun banyak variabel (multivariate). Pembahasan diutamakan pada cara membaca dan menafsirkan arti dari parameter yang diperoleh dari hasil pengolahan data yang terdapat pada output SPSS. Teknik analisis statistik yang dibahas meliputi Analisis Regresi, Analisis Path, Multiple Classification Analysis (MCA), Tabel Kontingensi, Model Logit, Model Log-Linear, Analisis Diskriminan, dan Analisis Faktor.

  1. Analisis Regresi Linier

Analisis regresi merupakan alat yang dapat memberikan penjelasan hubungan antara dua jenis variabel yaitu hubungan antara variabel dependen atau variabel kriteria dengan variabel independen atau variabel prediktor. Analisis hubungan antara dua variabel disebut sebagai analisis regresi sederhana jika hanya melibatkan satu variabel independen. Analisis disebut sebagai analisis regresi berganda jika melibatkan lebih dari satu variabel independen.

Hubungan antara variabel dependen (Y) dengan variabel independen (X) dituliskan dalam model linier umum

di mana , i = 1,2,……..p adalah koefisien regresi yang berarti besarnya perubahan pada , jika Xi bertambah satu satuan dan variabel yang lain konstan, adalah intercept. Residual e mengikuti distribusi normal dengan rata-rata 0 dan varians konstan sebesar s2.

Asumsi dasar dalam analisis regresi adalah (i) setiap Y yang merupakan kombinasi linier atas X dan mengikuti distribusi normal, (ii) e tersebar secara acak dan tidak berpola mengikuti besarnya nilai X, (iii) tidak terdapat hubungan (korelasi) yang tinggi antar variabel X.

Analisis Regresi Sederhana

Analisis regresi sederhana hanya melibatkan satu variabel independen X, sehingga dalam persamaan (3.1) p=1, sehingga model liniernya adalah

Dengan model seperti pada persamaan (3.2) maka hipotesis yang diajukan untuk diuji adalah H0: b1 = 0 terhadap H1: b 1 ¹ 0. Untuk menolak H0 harus dapat dibuktikan secara empirik bahwab 1 ¹ 0 atau b1 bermakna (significant) atau dengan kata lain ada hubungan linier regresi antara Y dan X seperti pada persamaan (3.2).

Dalam output SPSS 9.0 for Windows untuk subprogram REGRESION, yang pertama perlu diketahui adalah apakah regresi Y pada X bermakna. Hal ini dapat dilihat pada output ANOVA sebagai berikut:

ANOVA

Sum of

Squares

Df

Mean

Squares

F

Sig.

Uji hipotesis untuk mengetahui apakah regresi Y pada X ada, Tabel ANOVA dengan =0,00 menunjukkan bahwa H0 ditolak regresi Y pada X bermakna.

Model

1

Regresion

Residual

Total

6475.18

3185.81

9660.99

1

83

84

6475.18

38.38

168.698

.000

Selanjutnya adalah untuk mengetahui besarnya estimate koefisien regresi () serta standard error-nya, ini dapat dilihat pada output COEFFICIENTS sebagai berikut:

COEFFICIENTS

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

= 47,17 (intercept)

= 0,307 (koeffisien regresi)

Y akan berubah sebesar 0,31 unit  untuk setiap perubahan satu unit dari X.

B

Std. Error

Beta

Model

1

(Constant)

X

47.170

.307

1.726

.024

.819

27.337

12.988

.000

.000

Dapat dilihat bahwa karena regresi linier sederhana, maka pada dua tabel di atas t2= F. Beta=0,819 yang merupakan koef. regresi baku sebenarnya adalah sama dengan r = koefisien korelasi antara Y dan X, karena beta dihitung berdasarkan vaiabel baku Z yang dihitung dengan cara

Koefisien determinasi r2 = 0,670 (yaitu nilai Beta dikuadratkan atau (0.819)2) berarti bahwa variasi Y yang dapat dijelaskan oleh model sebesar 67 persen. Beberapa statistik dan estimasi dari parameter dapat pula diperoleh seperti rata-rata dan standard deviasi serta korelasi dari Y dan X. Para pembaca lebih lanjut dianjurkan untuk membaca SPSS7 Base 9.0 Application Guide.

Analisis Regresi Berganda

Kalau satu variabel dependen Y perlu dijelaskan oleh lebih dari satu variabel independen X, maka kita perlu membuat model yang sesuai dengan tujuan studi. Model tersebut adalah regresi linier ganda (Multivariate Linear Regression) yang secara umum modelnya seperti pada persamaan (3.1). Selain berguna untuk dapat menjelaskan hubungan p variabel X secara bersama terhadap variabel Y, dengan analisis regresi ganda juga dapat diperoleh suatu penjelasan tentang peranan atau kontribusi relatif setiap variabel X terhadap variabel Y. Secara empirik walaupun misalnya model (3.1) signifikan, yang berarti bahwa secara bersama p variabel X dapat menjelaskan variabel Y, tidak berarti bahwa setiap variabel mempunyai pengaruh yang signifikan pada variabel Y. Suatu kajian tersendiri perlu dilakukan untuk kemudian dapat memilah variabel X yang berpengaruh secara parsial pada variabel Y.

by : dora, arum, dani, ipeh, indah, n bella

UNS sos’10

Globalisasi
Nov 28th, 2011 by aldoranuary26

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Tugas Mereview Materi

Mata kuliah : Teori Sosial Politik

Judul : Globalisasi

Nama : Aldora Nuary Wismianti NIM : D0310008

Pengampu : Akhmad Ramdhon, S.Sos, MA

Review Pembelajaran : GLOBALISASI


Adanya demokrasi dan kapitalisme membangun sebuah negara baru yang kemudian berlanjut pada keadaan/teori yang lebih luas yang disebut dengan Globalisasi. Globalisasi merupakan suatu proses hubungan sosial secara relatif yang menemukan tidak adanya batasan jarak dan menghilangnya batasan-batasan secara nyata, jadi ruang lingkup kehidupan manusia itu makin bertambah dengan memainkan peranan yang lebih luas di dalam dunia sebagai satu kesatuan tunggal. Hubungan sosial, yang mana tidak lagi diperhitungkan sebagai suatu jalan yang rumit di mana orang berinteraksi dengan saling memanfaatkan satu sama lain, telah berkembang menjadi pola hubungan bahkan sampai ada yang tidak lagi menggunakan kata politik internasional atau “politics among nations”, tetapi politik global dan politics of the planet. Demikian pula “ekonomi global” mulai menggantikan “ekonomi internasional” terorganisir dan terbina dengan berbasiskan unit-unit dari satu planet.

Sebenarnya, kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang di dunia umumnya dan di kawasan Asia-Pasifik pada khususnya tidak bisa dilepaskan dari usaha-usaha, pengaruh, serta tindakan Amerika Serikat sebagai negara hegemoni yang menjamin terpeliharanya sistem perekonomian global yang liberal. Negara hegemoni semacam itu biasanya memiliki keunggulan teknologi, yang kelak akan menyebar ke negara-negara pendukung negara hegemoni sehingga secara langsung maupun tidak langsung akan membantu pertumbuhan ekonomi mereka. Penyebaran ini dibarengi oleh bantuan ekonomi dan perlindungan militer kepada setiap negara yang dianggap berpotensi untuk menjadi sekutu terkuatnya. Tentu saja kelak penyebaran bantuan ekonomi juga akan diberikan kepada negara-negara yang kurang maju untuk membantu usaha-usaha pembangunan negara bersangkutan guna memacu pertumbuhan ekonomi mereka. Fungsi yang juga penting adalah kedudukannya sebagai pasar global raksasa yang mampu menyerap barang-barang ekspor dari negara-negara sekutunya. Jadi, hanya negara dengan pasar domestik yang sangat besar saja yang pantas menjadi negara hegemoni.
Aspek ekonomi dari sistem internasional memiliki kekuatan dominan semenjak revolusi industri. Karena persaingan semakin tajam, adanya kebutuhan akan pasar dan tenaga kerja terampil yang murah, serta upaya mendapatkan bahan mentah dan sumber daya energi, maka aplikasinya terhadap politik internasional menjadi berlipat ganda. Upaya pembangunan seusai Perang Dunia II dan pertentangan ekonomi-politik antara Barat yang kapitalis dan Timur yang sosialis merupakan faktor-faktor pendukung berikutnya. Meskipun semua masalah ini bertolak dari bidang ekonomi, masalah-masalah itu sangat mempengaruhi sistem politik internasional. Guna menata segenap hubungan ini, dunia menciptakan sebuah sistem ekonomi internasional penunjang yang banyak di antaranya telah di lembagakan (yaitu lembaga antar pemerintah yang diatur secara formal) semenjak Perserikatan Bangsa-Bangsa terbentuk. Lembaga-lembaga tersebut antara lain : BIS, Group of Seven (G7) yang sekarang bahkan menjadi G20, GATT, IMF, IOSCO, OECD, UNCTAD, World Bank Group (WBG), dan World Trade Organization (WTO). Beberapa contoh fungsi lembaga tersebut adalah sebagai berikut :

  • International Monetary Fund (IMF)

Berdiri tahun 1945 dengan kantor pusat di Washington DC. IMF mengawasi aliran uang jangka pendek yang terjadi antar lintas batas dan masalah devisa. Badan ini juga memformulasikan stabilitas dan perubahan sistem kebijakan untuk suatu negara yang mengalami masalah kronis yang sulit dari hutang antar-lintas batas atau transisi dari suatu negara yang dulunya memakai sistem perencanaan ekonomi komunis.

  • World Bank Group (WBG)

Berdiri tahun 1945, berkantor pusat di Washigton DC. Group ini membuat suatu proyek pinjaman dalam jangka waktu yang panjang bagi pembangunan suatu negara terbelakang. Seperti IMF, Bank Dunia menjadi suatu hal yang memberatkan pada penyesuaian struktur program-program di negara-negara Selatan dan Asia Pasifik.

  • World Trade Organization (WTO)

Berdiri tahun 1955 dengan kantor pusat di Genewa. WTO menggantikan posisi GATT. Fungsinya adalah untuk mengatur perdagangan internasional.

Era yang akan mendominasi dunia untuk saat ini serta masa mendatang adalah era globalisasi dan kapitalisme global. William Greider mengamati bahwa globalisasi yang sedang terjadi ini pada akhirnya hanya akan menguntungkan segelintir orang, dan menyengsarakan sejumlah besar penduduk planet bumi ini. Ia melontarkan tesisnya bahwa motor di balik globalisasi adalah yang disebut dengan ‘kapitalisme global’. Sesuai dengan watak kapitalisme yang rakus dan tidak pernah puas, mereka beramai-ramai menguras kekayaan dunia, masuk ke dalam kantung mereka dengan memanfaatkan teknologi komputer, mengabaikan semua kesantunan hidup bersama. Hal ini menyentuh pada tingkat kebudayaan yang juga merupakan unsur intrusive dari negara maju sekaligus alat propaganda di dalam menebarkan bom-bom budaya baru di segala penjuru dunia. Globalisasi kemudian mulai menekan budaya lokal sampai ke sudut yang paling sempit sehingga orang dibuat lupa akan budayanya sendiri dan mengindahkan nilai-nilai budaya asing yang masuk ke dalam dirinya. Sebab di zaman sekarang ini, orang yang tetap berpendirian teguh pada nilai-nilai lama atau dengan kata lain budayanya akan dipandang ketinggalan zaman. Hal ini disebut pula Amerikanisasi yang merupakan suatu ideologi kebudayaan untuk membenarkan semua yang disebut neoliberalisme. Noorena Hertz mengatakan, akibat dari globalisasi ekonomi adalah terjadinya the death of democracy. Para pemimpin negara saat ini memang dipilih rakyat, tetapi ternyata mereka lebih sibuk untuk melayani pelaku bisnis global yang tidak memilihnya.

Regionalisme dengan blok-blok ekonomi yang ada di kawasan seperti ASEAN, juga mau tidak mau harus dapat menerima atau mencoba bertahan dari terpaan badai globalisasi yang terasa kencang ini dengan menguatkan kerjasama ekonominya. Sebab pergerakan dan pergeseran atau transformasi secara besar-besaran terjadi dalam hal ini demi memudahkan perdagangan seperti pembebasan tarif bea masuk dan pajak disertai dengan masuknya praktisi asing baik itu tenaga kasar, ahli dari negara luar ataupun barang dari negara maju atau antar negara berkembang sendiri (AFTA dan APEC).

Sumber : Rudy, T. May. 2003. Hubungan Internasional Kontemporer dan Masalah-Masalah Global. Refika Aditama : Bandung

Soal Korelasi Spearman – 2
Nov 22nd, 2011 by aldoranuary26

Mahasiswa Data Ranking d d2
Kreativitas Prestasi Kreativitas Prestasi
1 40 57 2 4 -2 4
2 116 65 8 6 2 4
3 113 88 6 9 -3 9
4 115 86 7 8 -1 1
5 83 56 3 3 0 0
6 85 62 4 5 -1 1
7 126 92 10 10 0 0
8 106 54 5 2 3 9
9 117 81 9 7 2 4
10 8 8 1 1 0 0
Σ = 0 Σ = 32

rs =  1  –  6  Σ d2 / n (n2 – 1)

=   1  – 6 (32)  /  10 (102 – 1)

=   1  –   192  /  10 (100-1)

=   1  –    192  /  10 (99)

=   1  –    192  /  990

=   1  –  0,194  =  0,806

UKD 2 Statistik – Korelasi Spearman
Nov 7th, 2011 by aldoranuary26

Program Sosiologi-FISIP-UNS

Mata Kuliah: Statistik Sosial I,   Dosen : Dr. Bagus Haryono, M.Si

========================================================

  1. Hitung besarnya Koefisien Korelasi Spearman dari data berikut:
Mahasiswa Kreativitas Mahasiwa Prestasi Mahasiswa
1 40 37
2 116 65
3 113 88
4 111 86
5 83 56
6 85 62
7 126 92
8 106 54
9 117 81
10
  1. Hitung besarnya Koefisien Korelasi spearman dari data berikut:
Dosen Produktivitas Ilmiah Prestasi Mahasiswa
1 37 40
2 65 116
3 88 113
4 54 106
5 81 117
6 42 82
7 46 98
8 39 87
9 86 111
10

Catatan:

1. Tambahkan sendiri data yang ke 10, dimana salah satu kolomnya diisikan angka yang membubuhkan 3 angka belakang NIM anda.

Feodalisme – Monarkhi
Oct 15th, 2011 by aldoranuary26

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Tugas Mereview Materi

Mata kuliah : Teori Sosial Politik

Judul : Feodalisme-Monarkhi

Nama : Aldora Nuary Wismianti NIM : D0310008

Pengampu : Akhmad Ramdhon, S.Sos, MA

FEODALISME – MONARKHI

Teori Sosial Politik diawali dengan pembahasan mengenai Feodalisme-Monarkhi. Dalam buku Filsafat Sejarah yang ditulis oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel, ia menjelaskan bahwa feodalisme mulai berkembang pada zaman pertengahan dimana terdapat reaksi bahwa para individu melawan otoritas yang sah dan kekuasaan eksekutif dari kedaulatan universal kerajaan Frank. Universalitas kekuasaan negara lenyap lewat reaksi ini : individu mencari perlindungan dengan kekuatan dan akhirnya menjadi penindas. Jadi secara berangsur-angsur melahirkan kondisi ketergantungan universal, dan hubungan perlindungan ini akhirnya disistematisasikan menjadi sistem feodal. Feodalisme itu sendiri adalah pendelegasian kekuasaan sosial politik yang dijalankan kalangan bangsawan atau monarkhi untuk mengendalikan berbagai wilayah yang dimilikinya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra, dalam pengertian lain, struktur ini diberikan oleh sejarawan pada sistem politik Eropa pada abad pertengahan yang menempatkan ksatria dan kelas bangsawan lainnya sebagai penguasa kawasan atau hak tertentu yang ditunjuk oleh monarkhi. Monarkhi merupakan suatu bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang raja yang mempunyai kekuasaan yang absolut atau mutlak atas rakyatnya. Monarkhi merupakan pengembangan dari feodalisme. Oleh sebab itu, terdapat kaitan antara feodalisme dan monarkhi, dimana kedua-duanya memiliki kekuasaan yang mutlak yang kemudian menekankan kekuasaan mereka terhadap masyarakat dibawahnya. Penguasa mulai menaklukkan dan menghisap bekas bangsawan dan raja-raja setempat serta kepala suku. Penguasa tersebut memperoleh kemenangan pertama mereka melalui penaklukan militer dan membuat garis-garis perbatasan baru di sekitar tanah-tanah yang mereka rebut dengan menandai daerah-daerah kekuasaannya. Mereka hanya mencari kekuasaan untuk mereka sendiri, untuk semakin memperluas kekuasaannya. Penguasa feodal adalah seorang poliarkhi : kita tidak melihat yang lain kecuali para tuan tanah dan para pengolah tanah. Sebaliknya, di dalam monarkhi ada satu raja dan tidak ada pengolah tanah (hamba budak), karena perbudakan dicabut olehnya, dan didalamnya hak dan hukum diakui. Hak dan hukum tersebut merupakan sumber kebebasan yang riel. Monarkhi-monarkhi Eropa dibangun atas basis feodal, tapi dalam prosesnya, mereka dengan kejam telah menghancurkan tradisi-tradisi jaman feodal dan mempercepat kehancuran suatu sistem yang telah mempertahankan pengawasan efektif oleh tahta kerajaan. Feodalisme adalah sebuah sistem pemerintahan dimana seorang pemimpin, yang biasanya seorang bangsawan, memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan juga tetapi lebih rendah dan biasa disebut vasal. Para vasal ini wajib membayar upeti kepada tuan mereka. Sedangkan para vasal pada gilirannya ini juga mempunyai anak buah dan abdi-abdi mereka sendiri yang memberi mereka upeti. Dengan begitu muncul struktur hierarkis berbentuk piramida.

Masyarakat feodal menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian, karena itu tanah menjadi faktor produksi utama dan jadilah pemilik tanah sebagai pihak yang berkuasa dan menempati lapisan atas struktur masyarakat atas dukungan petani lapisan terbawah. Di lapisan tengah terdapat pegawai kaum feodal dan pedagang. Ciri-ciri feodalisme antara lain adalah adanya lapisan atas, yakni tuan tanah, dan lapisan bawah (buruh). Buruh harus memberi upeti kepada tuan tanah karena pada saat itu tuan tanah yang paling berkuasa dan buruh adalah pekerja yang hanya memanfaatkan tanah si pemilik. Ciri lainnya adalah adanya kepatuhan lapisan bawah terhadap lapisan atas (nasib lapisan bawah ditentukan oleh lapisan atas). Untuk itu, sebagai bentuk kepatuhan karena nasibnya ditentukan oleh lapisan atas, maka lapisan bawah harus menuruti kehendak lapisan atas, dan tidak mempunyai hak untuk berpendapat. Feodalisme cenderung membunuh karakter orang lain, menjajah, menyalahkan orang lain, merendahkan, mencuri hak, dan merusak tatanan kehidupan. Salah satu kepositifan feodalisme hanyalah dapat memberi pekerjaan pada kalangan bawah, walaupun terkesan dipaksakan, namun hal tersebut menjamin kehidupan lapisan bawah. Karena manusia mulai mempertimbangkan untuk memproduksi kebutuhannya, manusia mulai membuat tempat-tempat produksi. Namun, ketika semua tanah menjadi tempat produksi tanpa memperhitungkan tingkat konsumsi, maka banyak tempat produksi yang ambruk karena tidak adanya konsumen saat semua menjadi produsen. Dalam tempat produksi itu terdapat budak-budak yang dipekerjakan, sehingga saat suatu tempat produksi ambruk, tentu menimbulkan pemberhentian. Keadaan yang kacau seperti petani dan pekerja lain yang kehilangan pekerjaan ini kemudian dijadikan komoditi yang terkesan bahwa budak bisa diperjualbelikan. Untuk melangsungkan proses jual beli ini, muncul kaum borjuis yang berkembang dengan gagasan kesetaraan, kebebasan, dan persaudaraan yang menggantikan gagasan kewajiban dan harga diri. Perjuangan kaum ini meruntuhkan pola hubungan bangsawan dan hamba, dan memunculkan kaum proletar yang tidak terikat pada tanah dan tuan feodal. Bersamaan dengan munculnya gagasan kebebasan dan munculnya negara modern yang mempunyai demokrasi dan liberalisme yang sangat bertolak belakang dengan feodalisme, maka tatanan feodal pun akhirnya runtuh.

Kesimpulan dari pembahasan feodalisme-monarkhi ini adalah sistem feodal atau feodalisme ini sudah lahir, bahkan sebelum zaman pertengahan di Eropa. Feodalisme sudah mulai muncul sejak zaman Yunani Kuno. Yang menjadi inti pembahasan dari feodalisme adalah tanah, dimana manusia itu hidup. Tanah memegang peranan penting pada zaman feodal, karena seseorang dikatakan memiliki kekuasaan bila orang tersebut memiliki modal utama berupa tanah yang kemudian berkembang menjadi wilayah. Sejarah feodalisme adalah sejarah peradaban manusia itu sendiri, dimana manusia dari awalnya sudah haus akan kekuasaan dan kedudukan.

Hegel, G.W.F. 2001. Filsafat Sejarah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa